Orang Sibuk Juga Bisa Hafal Al-Qur’an

Oleh: Slamet Setiawan, SHI

Apakah mungkin menghafal Al-Qur’an di sela-sela kesibukan kantor, sekolah, kerja dan beragam aktifitas menyibukkan lainnya? Kesibukan seringkali menjadi alasan terhalangnya seseorang untuk menjadi salah satu barisan para penghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an dianggap suatu hal yang sangat mustahil bagi orang yang mengatakan dirinya “saya orang sibuk” sehingga seolah ada pembenaran untuk tidak menghafal Al-Qur’an. Belum lagi masih banyak anggapan bahwa masih jarang dan langka mendapati seseorang mampu mengelola waktunya meski dia sedang sibuk dengan aktifitas hariannya.

Tunggu dulu, Saudaraku! Mari kita renungkan sejenak fakta berikut. Tradisi menghafal Al-Qur’an merupakan bagian inheren dalam diri umat Islam. Sebuah tradisi yang dilandasi oleh keimanan mereka terhadap Al-Qur’an sebagai kitab suci dan pedoman hidup utama. Sejak zaman Nabi Muhamad SAW hingga masa sekarang, lahir para penghafal Al-Qur’an yang sering disebut al-huffazh (jamak dari al-hafizh). Biografi dan kisah hidup mereka diabadikan serta dikenang oleh generasi Islam sepanjang masa. Mereka dipandang sebagai komunitas yang mendapat keistimewaan. Oleh karena itu menghafal Al-Qur’an terus menjadi cita-cita banyak orang.

Banyak diantara kita yang terjebak oleh persepsi yang tidak tepat mengenai menghafal Al-Qur’an. Mereka beranggapan bahwa menghafal Al-Qur’an hanya bisa dilakukan oleh santri-santri yang mondok di Pesantren khusus Tahfizh Al-Qur’an. Sebuah kemustahilan menghafal Al-Qur’an bagi orang-orang sibuk sekolah, bekerja dan aktifitas lainnya. Ada juga yang beranggapan bahwa menghafal Al-Qur’an membutuhkan kecerdasan otak yang tinggi. Persepsi-persepsi negatif inilah yang membuat kita ciut dan malas memulai menghafal Al-Qur’an.

Pada dasarnya menghafal Al-Qur’an dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja, baik di usia muda maupun tua. Yang perlu dicermati dalam menghafal Al-Qur’an adalah kesiapan kita sendiri, baik secara sudut pandang maupun metode. Pertama yang harus disiapkan bagi para penghafal Al-Qur’an adalah menghilangkan persepsi negatif yang membayang-bayangi dirinya. Karena modal menghafal bukanlah waktu luang, tempat yang khusus ataupun kecerdasan otak.

Untuk mengawali menghafal Al-Qur’an kita perlu menumbuhkan CINTA terhadap Al-Qur’an. Lamarlah Al-Qur’an menjadi kekasih antum dan katakan “kupinang Al-Qur’an dengan basmalah”. Bagi setiap orang yang mencintai kekasihnya pasti akan mencurahkan semua yang dimilikinya untuk sang kekasih, baik waktu, tenaga dan yang lainnya. Bagi seorang yang sedang jatuh cinta pasti akan menyayangi kekasihnya dengan sepenuh hati. Begitu juga dengan para pencinta Al-Qur’an, seluruh hidupnya akan didedikasikan untuk Al-Qur’an.

Dalam membangun cinta menghafal Al-Qur’an, kita dapat merangsang dengan memahami keistimewaan-keistimewaan yang diberikan kepada para penghafal Al-Qur’an. Salah satu contohnya adalah sabda Nabi Muhamad SAW: “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari golongan manusia.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah mereka?” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang yang dekat dengan Al-Qur’an. Mereka adalah keluarga Allah dan hamba yang istimewa.” (HR. Ibnu Majah)

Setelah benih-benih cinta itu tumbuh, maka bersegeralah menghafal dengan KESUNGGUHAN. Kecerdasan otak dapat dikalahkan oleh kesungguhan yang kuat. Betapa banyak orang-orang cerdas IQ-nya di sekitar kita, tapi mereka tidak mampu menghafal Al-Qur’an. Namun sebaliknya banyak orang-orang yang biasa dalam prestasi akademik yang hafal Al-Qur’an. Maka mantra yang harus tertanam kuat bagi penghafal Al-Qur’an adalah “man jadda wajada,” siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.

Pondasi terakhir bagi para penghafal Al-Qur’an adalah ISTIQAMAH. Tanpa istiqamah maka kita tidak akan pernah sampai tujuan, karena perjalanan penghafal Al-Qur’an  perlu waktu lama bahkan seumur hidup. Bagi para penghafal Al-Qur’an, mereka mewakafkan dirinya untuk menjadi bagian dari proyek Allah SWT, yakni menjaga kemurnian dan keaslian Al-Qur’an. “Sesungguhnya kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami juga yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Demikianlah tiga pondasi dalam menghafal Al-Qur’an. CINTA, KESUNGGUHAN, dan ISTIQAMAH. Jika pondasi sudah terpasang dengan kuat maka saatnya bagi para penghafal mulai membangun istana hafalannya. Pilihlah desain yang cocok untuk antum, karena tiap orang mempunyai kesukaan yang berbeda-beda dalam membangun istana hafalannya. Carilah metode yang paling mudah untuk dipraktekkan, terus berinovasi dan jangan bosan jika antum tidak ingin berguguran ditengah jalan. Banyak cara-cara menghafal Al-Qur’an yang diajarkan oleh guru-guru dan teman-teman kita, baik cara klasik maupun modern.

Penulis tidak akan membahas satu-persatu cara menghafal Al-Qur’an, karena setiap orang punya kecocokan masing-masing dengan metode-metode yang ada. Simpulan dari tulisan ini adalah bahwa menghafal Al-Qur’an tidak bergantung kepada faktor eksternal seperti adanya kesibukan, tidak ada tempat khusus menghafal dan lain sebagainya. Akan tetapi kesuksesan menghafal ditentukan oleh faktor internal diri kita. Jika persepsi dan kesiapan kita sudah benar, insya Allah menghafal Al-Qur’an akan menjadi keniscayaan. Kesulitan di awal bukan berarti kita tidak mampu, tapi karena kita belum menemukan jalan yang cocok untuk kita. Wallahu a’lam.
loading...
loading...