Syarat Diterimanya Syahadat

Agar syahadat kita diterima dan mendapatkan janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ada beberapa syarat yang harus kita miliki sebagai konsekuensi telah mengikrarkan syahadatain. Diantaranya,

1. Ilmu yang menapik kebodohan

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan ilmu tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Mengenai Allah subhanahu wa taala dan rasul-Nya secara tepat akan mendorong ketaatan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul Nya. Sebaliknya tidak mengenal Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasul Nya secara tepat membuat kita lalai menunaikan hak-hak Allah subhanahu wa taala dan rasul-Nya firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: Muhammad ayat 19 dan Az-Zukhruf ayat 86.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa'at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).

2. Keyakinan yang menapik keraguan

Syahadatain yang kita ikrarkan harus diikuti keyakinan kepada Allah subhanahu wa taala dan rasul-Nya. Iya Kinan itu meliputi keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala sebagai pencipta, pemberi rezeki, ma'bud dan yang semakna dengannya. Serta yakin bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah nabi terakhir yang diutus Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Keraguan pada semua itu akan membuat syahadatain kita ditolak. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: Muhammad ayat 15.

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى ۖ وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?

3. Keikhlasan yang menapik kesyirikan

Keikhlasan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala saat mengikrarkan syahadatain sangatlah penting karena ikrar itu merupakan ibadah. Adapun Ibadah harus diniatkan dengan ikhlas semata-mata mengharapkan ridho Allah subhanahu wa ta'ala. Jika ada niat lain yang menyertainya, ikrar syahadatain kita ditolak. Bahkan jika tauhid kita terkotori kesyirikan ikrar syahadatain kita tetap ditolak meskipun telah berikrar ratusan atau ribuan kali firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: Al Bayyinah ayat 5 dan Al Kahfi ayat 110.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

4. Kejujuran yang menapik kebohongan

Mengikrarkan syahadatain harus kita sertai dengan kejujuran kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kejujuran kepada Allah mutlak diperlukan demi menjaga kemurnian tauhid kita. Sebaliknya sifat dusta dan bohong bertentangan dengan nilai kejujuran itu dan berakibat keimanan kita ditolak Allah subhanahuwata'ala. Islam sendiri sangat menghargai kejujuran dan menolak dusta. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: Al Baqarah ayat 8 dan Al Hajj ayat 24.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ

Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.

5. Cinta yang menapik permusuhan dan kebencian

Cinta kepada Alloh dan rasul-Nya adalah landasan keimanan yang dengan itu kita rela mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul Nya. Cinta kepada Allah dan Rasul Nya harus kita prioritaskan dari cinta kepada yang lain. Sebaliknya, sikap permusuhan dan kebencian kepada Alloh dan Rasul Nya akan membuat syahadatain kita ditolak. Firman Allah: Al Baqarah ayat 165 dan At Taubah ayat 24.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

6. Penerimaan yang menapik penolakan

Syahadatain yang kita ikrarkan mengharuskan kita untuk menerima konsekuensinya pula berupa menaati perintah Allah subhanahu wa ta'ala dan meninggalkan larangannya serta taat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Menerima ajaran dan syariat Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah konsekuensi syahadatain. Sebaliknya menolak ajaran dan Syariah Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul Nya membuat syahadatain kita ditolak. Firman Allah: An Nisa ayat 65

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

7. Pelaksanaan yang menapik pengabaian dan sikap enggan beramal

Di antara konsekuensi syahadatain kita adalah melaksanakan tuntunan logisnya berupa perbuatan. Oleh karena itu mengakui kebenaran ajaran Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, tetapi mengabaikan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang muslim dapat membatalkan syahadatain kita. Berkaitan dengan itu semua Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kita untuk beramal di dijalan-Nya dengan sikap dasar bahwa pahala dari semua amal itu adalah di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Firman Allah: At Taubah ayat 105

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Orang-orang yang beramal sholeh karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala, laki-laki atau perempuan pasti akan mendapat kehidupan yang baik di surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: An-Nahl ayat 97.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Wallahu a'lam.
loading...
loading...