Hal-hal yang Membatalkan Syahadatain

 Pemateri: Slamet Setiawan

Dengan mengucapkan syahadatain berarti kita telah mempersaksikan diri sebagai hamba Allah semata. Kalimat Lailahaillallah dan Muhammadurrosulullah harus selalu membekas dalam jiwa dan menggerakkan anggota tubuh kita agar tidak menyembah selain Allah. Bagi kita hanya Allah Tuhan yang harus ditaati, diikuti ajaran-Nya, dipatuhi perintah-Nya, dan dijauhi larangan-Nya. Caranya adalah dengan meneladani pribadi Rasulullah, karena dialah contoh sejati hamba Allah. Dalam pembukaan surat Al Isra Allah SWT telah mendeklarasikan bahwa Rasulullah SAW adalah hamba-Nya.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Begitu pula dalam pembukaan surat Al Kahfi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ۜ

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya."

Semua itu menunjukkan makna syahadatain benar-benar tercermin dalam jiwa dan perbuatan kita. Tidak ada pilihan lagi bagi kita kecuali mencontoh pribadi Rasulullah SAW dalam semua aspek kehidupan, baik Aqidah, Ibadah, maupun aspek lainnya seperti sikap terhadap istri dan pelayannya di rumah, pergaulannya bersama sahabat, akhlaknya dalam berbisnis, dan kepemimpinannya sebagai kepala negara. Untuk menjaga kemurnian tauhid sebagai cerminan syahadatain, setidaknya ada 3 hal yang dapat merusak tauhid kita.

1. Syirik (menyekutukan Allah)

A. Definisi

Syirik adalah kebalikan dari tauhid, yaitu sikap menyekutukan Allah SWT dalam zat, sifat, perbuatan dan ibadah. Adapun syirik secara zat adalah meyakini bahwa zat Allah seperti zat makhluk-Nya. Akidah itu dianut kelompok mujassimah. Syirik secara sifat adalah meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat Allah SWT. Dengan kata lain mahluk mempunyai sifat seperti sifat Allah SWT dan tidak ada bedanya sama sekali.

Syirik secara perbuatan adalah meyakini bahwa makhluk mengatur alam semesta dan rezeki manusia seperti yang telah diperbuat Allah SWT selama ini. Adapun syirik secara ibadah adalah menyembah selain Allah SWT dan mengagungkannya seperti mengagungkan Allah SWT, serta mencintainya seperti mencintai Allah SWT. Syirik-syirik dalam semua pengertian itu telah ditolak Islam secara eksplisit atau implisit, karenanya seorang muslim harus benar-benar hati-hati dan menghindar jauh dari syirik-syirik seperti yang telah diterangkan di atas.

B. Bentuk-bentuk syirik

Pertama, menyembah patung atau berhala. Firman Allah SWT dalam surat Al Hajj ayat 30:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta."

Dalam surat Maryam ayat 42 Allah SWT berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

"Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?"

Ayat itu menceritakan Nabi Ibrahim yang menegur ayahnya karena menyembah patung.

Kedua, menyembah matahari seperti dalam surat aAl A'raf ayat 54,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam."

Melalui ayat itu, Allah menolak orang yang menyembah matahari, bulan, dan bintang. Di surat Fushilat ayat 37 Allah SWT menegaskan lagi,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah."

Ketiga, menyembah malaikat dan jin seperti dalam surat Al An'am ayat 100,

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ ۖ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ

"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan."

Dalam surat Saba' ayat 40-41 Allah SWT tegaskan kembali,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَٰؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ

"Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?"

قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

"Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".

Keempat, menyembah para nabi, seperti Nabi Isa yang disembah kaum Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap Anak Allah.

Allah SWT berfirman dalam surat at-taubah ayat 30,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

"Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?"

Dalam surat Al Maidah ayat 5 Allah SWT juga berfirman,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi."

Perhatikan juga ayat 17 di surat yang sama,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?". Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Kelima, menyembah rahib atau pendeta firman Allah SWT dalam surat At Taubah ayat 31,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."

Adi bin Hatim pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hal itu, "sebenarnya mereka tidak menyembah pendeta atau rahib mereka."  Rasulullah menjawab, "Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sedangkan mereka mengikutinya. Bukankah itu bentuk penyembahan mereka?"

Keenam, menyembah thagut. Istilah thagut diambil dari kata thughyanun yang artinya melampaui batas. Maksudnya segala sesuatu yang disembah selain Allah. Inti setiap seruan para rasul adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi taghut.

Allah SWT berfirman dalam surat An Nahl ayat 36,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."

Tauhid yang murni tidak akan tercapai tanpa menghindar dari menyembah hagut.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 256,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Allah SWT pun bangga dengan orang beriman yang menjauhi taghut, firman-Nya dalam surat Az Zumar ayat 17,

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ

"Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,"

Ketujuh, menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecenderungan melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu berarti mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian, ia telah menaati hawa nafsunya dan menyembahnya.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Furqan ayat 43,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,"

Dan firman-Nya dalam surat Al Jatsiyah ayat 23,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?"

C. Macam-macam syirik

Syirik ada dua macam, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Masing-masing mempunyai dua dimensi zhahir dan khafi. Berikut penjelasan satu persatu.

Pertama, syirik besar (asy syirkul akbar), yaitu tindakan menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Dikatakan syirik besar karena dengannya tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga.

Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa ayat 116,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya."

Syirik besar dibagi menjadi dua dimensi: zhahir dan khafi. Syirik besar zhahir, seperti menyembah bintang, bulan matahari, patung, batu, pohon besar, manusia (seperti menyembah Fir'aun, raja, Budha, Isa putera Maryam, malaikat, jin dan setan). Sementara iu syirik besar khafi, seperti meminta kepada orang yang sudah mati dengan keyakinan mereka dapat memenuhi permintaan mereka atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum (dengan menghalalkan dan mengharamkan sesuatu seperti halnya Allah SWT).

Kedua, syirik kecil (asy syirkul asghar), yaitu tindakan yang mengarah pada syirik, tetapi tingkatannya belum sampai keluar dari tauhid (hanya mengurangi kemurnian tauhid). Sirik kecil ada dua dimensi juga: zhahir dan khafi/ Syirik kecil zhahir berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan. Contoh syirik kecil yang berupa lafal adalah bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke syirik seperti pernyataan, "Demi Nabi!", "Demi ka'bah!", "Demi kakek dan nenek!".

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang bersumpah dengan selain Allah, dia telah kafir dan musyrik." (HR. Tirmidzi). Termasuk lafal yang mengarah pada syirik pernyataan adalah "jika bukan karena Allah SWT dan si fulan, niscaya ini tidak akan terjadi" atau pemberian nama seperti Abdul Ka'bah. Adapun syirik kecil yang berupa perbuatan adalah mengalungkan jimat dengan meyakini bahwa jimat tersebut dapat menghindarkan dirinya dari marabahaya.

Adapun syirik kecil khafi biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya' dan sum'ah (melakukanketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang). Contohnya menegakkan shalat seolah-olah husyu karena berada disamping mertua supaya dipji sebagai calon menantu yang shalih, padahal tidak demikian saat shalat sendirian. Rya' termasuk dosa hati yang sangat berbahaya karena Islam sangat memperhatikan perbuatan hati sebagai unsur yang menentukan baik tidaknya amal zhahir.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 264,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir."

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja yang menampakkan amalnya dengan maksud riya', Allah akan menyingkapnya di hari kiamat. Siapa saja yang menampakkan amaaal shalihnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah SWT akan megeluarkan rahasia itu di hari kiamat." (HR. Bukhari-Muslim)

D. Bahaya-bahaya syirik

Pertama, syirik adalah kezaliman yang nyata.

Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 13,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Mengapa? Itu karena perbuatan syirik seseorang telah menjadikan dirinya hamba dari sesembahan yang sama dengan dirinya, tidak berdaya apa-apa.

Kedua, syirik merupakan sumber khurafat karena orang-orang yang meyakini bahwa selain Allah SWT (bintang, bulan, kayu besar) dapat memberi manfaat atau bahaya, berarti telah siapa melakukan khurafat yang lain dengan mendatangi dukun, kuburan angker, atau mengalungkan jimat di lehernya.

Ketiga, syirik adalah sumber ketakutan dan kesengsaraan.

Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 151,

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. tempat kembali mereka ialah neraka; dan Itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.”

Keempat, syirik merendahkan derajat kemanusiaan.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Hajj ayat 31,
حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”

Kelima, syirik menghancurkan kecerdaan manusia.

Allah SWT berfirman dalam surat Yunus ayat 18,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada Kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?"[1] Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).

[1] Kalimat ini adalah ejekan terhadap orang-orang yang menyembah berhala, yang menyangka bahwa berhala-berhala itu dapat memberi syafaat Allah.

Keenam, di akhirat nanti orang musyrik tidak akan mendapatkan ampunan Allah dan akan masuk neraka selama-lamanya.

Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa ayat 116,

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”

Dan firman-Nya dalam surat Al Maidah ayat 72,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”

E. Sebab-sebab syirik

Ada beberapa sebab fundamental munculnya syirik. Pertama, al jahlu (kebodohan) yang menjadi dasar penamaan masyarakat sebelum datangnya Islam sebagai masyarakat jahiliyah. Hal itu karena mereka tidak dapat membedakan sesuatu yang benar dan yang salah. Dalam keadaan yang penuh kebodohan itu, orang-orang cenderung berbuat syirik. Oleh karena itu, semakin jahiliyah suatu kaum, semakin kuat kecenderungan mereka berbuat syirik. Biasanya di tengah masyarakat jahiliyah, ara dukun selalu menjadi rujukan utama mereka. Mengapa? Itu karena mereka bodoh dan dengan kebodohan itu mereka tidak tahu cara mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Pada akhirnya para dukun menjadi narasumber yang mereka agungkan.

Kedua, dhu'ful iman (lemahnya iman). Seseorang yang lemah imannya cenderung berbuat maksiat karena minimnya rasa takut kepada Allah. Minimnya rasa takut itu akan dimanfaatkan hawa nafsu untuk menguasai dirinya. Ketika seseorang dibimbing hawa nafsunya, tidak mustahil dia akan jatuh ke dalam perbuatan syirik, seperti memohon kepada pohon besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta pertolongan agar dipilih menjadi presiden, atau selalu merujuk ke para dukun agar penampilannya tetap memikat hati banyak orang.

Ketiga, taqlid (taklid buta). Al Quran menggambarkan kecenderungan manusia yang menyekutukan Allah SWT dengan alasan mengikuti jejak nenek moyang mereka.

Allah SWT berfirman dalam surat Al A'raf ayat 29,

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

“Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu[2] di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)".

[2] Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.

Firman-Nya juga dalam surat Al Baqarah ayat 170,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".

Dan dalam surat Al Maidah ayat 104,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya". dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.”

2. Ilhad (menyimpang dari kebenaran)

A. Penggunan istilah al ilhad dalam Al Qur’an

Al Qur’an menggunakan istilah ilhad di banyak tempat. Kadng berbentuk yulhadun,

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna[3], Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya[4]. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A’raf: 180)

[3] Maksudnya: Nama-nama yang Agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah.
[4] Maksudnya: janganlah dihiraukan orang-orang yang menyembah Allah dengan Nama-nama yang tidak sesuai dengan sifat-sifat dan keagungan Allah, atau dengan memakai asmaa-ul husna, tetapi dengan maksud menodai nama Allah atau mempergunakan asmaa-ul husna untuk Nama-nama selain Allah.

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

“Dan Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam[5], sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An Nahl: 103)

[5] Bahasa 'Ajam ialah bahasa selain bahasa Arab dan dapat juga berarti bahasa Arab yang tidak baik, karena orang yang dituduh mengajar Muhammad itu bukan orang Arab dan hanya tahu sedikit-sedikit bahasa Arab.

إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا أَفَمَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ خَيْرٌ أَمْ مَنْ يَأْتِي آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari kami. Maka Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushshilat: 40)

Kadang berbentuk ilhad,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al Hajj: 25)

Kadang berbentuk multahada,

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, Yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padanya.” (QS. Al Kahfi: 27)

قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya". (QS.; Al Jin: 22)

B. Al Ilhad menurut para ulama

Al farra’ mengatakan, yulhidun atau yulhadun artinya condong kepadanya. Imam Al harrani dari Ibnu Sikkit mengatakan al mulhid artinya orang yang menyimpang dari kebenaran dan memasukkan sesuatu yang lain kedalamnya. Lisanul arab menyebutkan al ilhad berarti menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Meragukan Allah SWT termasuk al ilhad. Begitu juga dalam bahasa arab, setiap tindak kezaliman disebut ilhad. Oleh karena itu, sebuah riwayat menyatakan bahwa monopoli makanan di tanah haram termasuk ilhad. Jika dokatakan “laa tulhid fii hayati” berarti “jangan kau menyimpang dari kebenaran selama hidupmu.”

Imam Ashfahani dalam bukunya Mufradat Alfadzul Qur’an menulis, al ilhad berarti menyimpang dari kebenaran. Dalam hal itu -menurut Ashfahani- ada dua makna. Pertama, ilhad yang identik dengan syirik. Jika itu dilakukan, otomatis orang jadi kafir. Kedua, ilhad yang mendekati syirik. Ilhad ini tidak membuat seseorang menjadi kadir, tetapi setidaknya mengurangi kemurnian tauhid. Termasuk didalamnya adalah seperti yang digambarkan Allah SWT,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al Hajj: 25)

Dalam menafsirkan ayat (tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya), Imam Al Ashfahani menyebutkan bahwa ada dua macam ilhad dalam menyebut nama Allah SWT,
a. Menyifati Allah SWT dengan sifat yang tidak pantas sebagai sifat Allah SWT.
b. Memaknai asma’ Allah SWT dengan makna yang tidak sesuai dengan keagungan-Nya (baca Mufradat Alfadzul Qur’an hal. 737)

C. Hakekat ilhad

Berdasarkan tinjauan tadi, baik ditinjau dari segi bahasa maupun definisi yang disampaikan para ulama, tampak bahwa ilhad digunakan untuk segala tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Jadi setiap penyimpangan dari kebenaran disebut ilhad. Namun secara definisi ia lebih khusus digunakan untuk sifat yang menafikan sifat, nama, dan perbuatan Allah SWT. Dengan kata lain, para mulhidun adalah mereka yang tidak percaya adanya sifat, nama dan perbuatan Allah SWT. Berbeda dengan makna kafir yang di dalamnya dapat berupa pengingkaran terhadap Allah SWT, menyekutukan-nya atau mengingkari nikmat-Nya. Sementara itu, ilhad lebih dekat pada pengingkaran nama, sifat, dan perbuatan Allah SWT. Jadi tidak semua orang kafir itu ilhad. Oleh karena itu seperti dikatakan dalam Al Furuq Al Lughawiyah, orang Yahudi dan Nasrani tidak termasuk mulhidun, sekalipun mereka tergolong kafir. Meski demikian, setiap perbuatan ilhad itu tergolong kafir.

D. bahaya ilhad

Pertama, para ulama sepakat tauhid mempunyai tiga dimensi, yaitu tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma’ washifat. Oleh karena itu ilhad adalah tindakan yang menafikan sifat, nama, dan perbuatan Allah SWT, dengan melakukan ilhad berarti seseorang telah menghapus satu dimensi dari dimensi tauhid yang baku. Para ulama sepakat, mengingkari satu dari dimensi tauhid adalah kafir. Oleh karena itu orang yang mulhid tergolong kafir.

Kedua, dengan menafikan sifat dan nama Allah SWT, berarti seseorang telah mengingkari ayat Al Qur’an yang menegaskan adanya nama dan sifat Allah SWT. Para ulama sepakat bahwa mengingkari satu ayat dari Al Qur’an adalah kafir.

Ketiga, mengingkari perbuatan Allah SWT berarti mengingkri segala wujud di alam ini senagai ciptaan-Nya. Jika itu yang diyakini seseorang berarti ia telah mengingkari kekuasaan Allah SWT sebagai pencipta. Dan mengingkari kekusaan Allah SWT adalah kafir.

3. Nifak (berwajah dua, menampakan diri sebagai Muslim sedangkan hatinya kafir)

Imam Al Ashfahani menerangkan, an nifaq diambil dari kata an nafaq yang artinya jalan tembus.

وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الأرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa Amat berat bagimu, Maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah)[6]. kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Al An’am: 35)

[6] Maksudnya Ialah: janganlah kamu merasa keberatan atas sikap mereka itu berpaling daripada kami. kalau kamu merasa keberatan cobalah usahakan suatu mukjizat yang dapat memuaskan hati mereka, dan kamu tentu tidak akan sanggup.

Orang arab berkata, nafaqal yarbu (binatang yarbu telah melakukan nifak karena ia masuk ke satu lubang lalu keluar dari lubang yang lain). Dalam pengertian ini an nifaq digunakan karena seperti orang muafik ketika bertemu dengan orang muslim. Namun ketika bertemu dengan kawan-kawan mereka sesama orang kafir mereka kembali lagi ke wajah mereka yang asli sebagai orang kafir. Allah SWT menyebut,

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[7]. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 67)

[7] Maksudnya: Berlaku kikir

A. Ciri-ciri orang munafik

Di pembukaan surat Al Baqarah setelah menceritakan ciri-ciri orang beriman dan ciri-ciri orang kafir, Allah SWT lalu menceritakan ciri-ciri orang munafik secara panjang lebar. Ringkasnya sebagai berikut:

1. Mulut mereka mengatakan beriman kepada Allah SWT dan hari kiamat, akan tetapi hati mereka kafir. (Ayat 8-10)
2. Ketika dikatakan kepada mereka agar jangan berbuat kerusakan, mereka mengaku berbuat kebaikan. (ayat 11-12)
3. Ketika bertemu dengan orang beriman mereka menampakkan keimanan, tetapi ketika kembali ke kawan-kawan meeka sesama setan, merekapun kafir. (Ayat 13-15)
4. Ibarat orang berbinis, mereka membeli kekafiran dengan keimanan karena setiap saat wajah mereka berganti-ganti, bergantung pada orang yang saat itu bersama mereka. (Ayat 16)
5. Ibarat berjalan dalam kegelapan, setiap kali mereka menyalakan obor, seketika obor itu padam kembali. (Ayat 17-18)
6. Ibarat orang yang ketakutan mendengarkan petir saat hujan turun, mereka selalu menutup telinga karena tidak ingin kebenaran yang disampaikan Rasulullah SAW masuk ke dalam hati mereka. (Ayat 19-20)

Penutup

Demikianlah beberapa hal yang merusak kemurnian tauhid (menghancurkan makna syahadatain). Secara singkat setidaknya ada tiga, yaitu syirik, ilhad dan nifak. Masing-masing mempunyai alasannya. Syirik lebih mengarah pada menyekutukan Allah SWT, sedangkan ilhad lebih mengarah pada sikap menafikan sifat, nama dan perbuatan Allah SWT. Adapun nifak lebih mengarah pada penampilan dengan dua wajah. Namun, muara dari ketiganya adalah kekafiran. Wallahu a’lam.

Slametsetiawan.com

loading...
loading...