Ikut Mentoring Yuk...

Oleh: Slamet Setiawan

Guys... Mentoring itu makanan apa sih? Kedengarannya enak dech... Hehe... Bukan makanan tau. Mentoring itu cara belajar yang mengasyikkan. Yuk, kita simak apa itu mentoring.

Mentoring berarti pengajian, dalam bahasa lain bisa disebut majelis taklim, atau forum yang bersifat ilmiyah atau juga disebut pembinaan.

Istilah taklim ini juga sangat umum di Timur Tengah dan dilakukan di banyak masjid. Materinya bisa berisi kitab tertentu seperti aqidah, fikih, muamalah, hadits, sirah, dan lain sebagainya. Dua contoh yang paling mudah bisa kita dapati yaitu di dua Masjid Al-Haram, Mekkah dan Madinah, setiap hari dipenuhi dengan taklim yang diisi oleh para masyayikh atau ustadz yang kompeten di bidangnya.

Pada awal dakwah Islam, Rasulullah SAW menampakkan Islam kepada orang yang paling dekat dengannya, anggota keluarga, dan sahabat-sahabat karibnya. Rasulullah SAW mendakwahkan mereka dan siapa saja yang memang diketahui mencintai kebaikan, kebenaran dan kejujuran beliau. Rasulullah SAW menemui dan mengajarkan Islam kepada mereka secara sembunyi-sembunyi, hal ini dilakukan karena untuk menjaga keselamatan masing-masing. Rasulullah SAW membuat pertemuan-pertemuan di rumah beberapa sahabat. Yang masyhur dalam proses penanaman nilai-nilai ajaran Islam dilakukan di rumah Arqam. Di dalam majelis ini terdiri dari beberapa sahabat. Rasulullah SAW sendiri yang lebih banyak mengajar dan membentuk mereka agar memiliki kepribadian yang Islami. Melalui pendidikan Islam pertama ini terbentuklah sekelompok orang-orang mukmin yang senantiasa bahu-membahu untuk menegakkan kalimat Allah SWT.

Pada periode dakwah di Madinah, pendidikan Islam pertama dilakukan di masjid. Nab SAW melakukan tugas mendidik umat melalui masjid yang menyatu dengan rumah beliau pada waktu-waktu yang dipilih. Sahabat Ibnu Mas’ud ra meriwayatkan:

“Nabi membuat sela-sela (masa jeda) dalam ceramah pada hari-hari tertentu demi menghindari kebosanan.” (HR. Bukhari)

Dalam pendidikan Islam tersebut Nabi SAW menyampaikan materi ilmu yang beragam. Namun yang paling diutamakan oleh Nabi SAW adalah mengajarkan Al Qur’an.

Al Alawi Al Makki mengatakan: “Pada majelis-majelis pendidikan Islam kenabian dipelajari ilmu-ilmu dasar beserta kaidahnya, seperti berbagai macam fadhilah, berbagai macam wawasan pemikiran, akhlak, tradisi yang baik dan faedah-faedahnya yang besar, yang merupakan sumber ilmu pengetahuan. Kami akan menuturkan sebagian dari apa yang dipelajari para sahabat pada kegiatan yang mulia tersebut. Dan tidak diragukan lagi, sesungguhnya ilmu dasar terpenting di situ adalah Al Qur’an Al Karim.”

Pada masa tabi’in setelah sahabat, terdapat pendidikan Islam (pengajian) di Madinah Al Munawarah yang memakmurkan Masjid Nabawi yang mulia. Di masjid itu para ulama yang langka dari para pembesar tabi’in berkumpul sebagaimana kumpulan gugusan bintang-bintang yang bersinar di jantung langit. Ada pengajin yang dipimpin Urwah bin Az Zubair, ada pengajian yang dipimpin Sa’id bin Musayyab, dan ada pengajian yang dipimpin Abdullah bin Utbah.

Di Nusantara, sistem pendidikan Islam (pengajian) ini dikategorikan dalam sistem pendidikan tradisional. Sistem ini sudah diterapkan sejak masuknya Islam di Nusantara. Pada awalnya diterapkan di masjid-masjid, surau, dan langgar-langgar yang merupakan cikal-bakal lahirnya pesantren. Seiring perkembangan zaman pesantren juga mengalami perkembangan, berupa lahirnya inovasi baru dalam dunia pendidikan pesantren. Tapi ada hal yang merupakan ciri khas yang tidak bisa lepas yaitu penerapan sistem pengajian dalam pembelajaran di pesantren, meskipun sudah ada sistem pembelajaran klasik atau madrasah.

So, kini fenomena pendidikan Islam menjadi umum dijumpai di lingkungan kaum muslimin dimanapun mereka berada, walaupun mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Penyebaran pendidikan Islam yang pesat tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan pendidikan ini dalam mendidik pesertanya menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.

Saat ini pendidikan Islam menjadi sebuah alternatif pengajaran keislaman yang masif dan merakyat. Di dalam pendidikan Islam tidak lagi melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, atau budaya pesertanya. Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama Islam atau tidak. Sekarang ini pendidikan Islam telah menjadi sebuah wadah pengajaran Islam yang makin inklusif (erbuka).

Sobat, demikian penjelasan tentang arti pendidikan Islam (mentoring) dan sejarahnya. Semoga kita semua mendapat taufik dan hidayah dari Allah SWT, untuk senantiasa bersemangat mendatangi kegiatan mentoring kapanpun dan dimanapun kita berada. Aamiin.

Wallahu a’lam.


loading...
loading...