KENAPA BACAAN AL-QUR'AN ADA YANG BERBEDA-BEDA?

Assalamualaikum ustadz...ada pertanyaan lagi dari manis. Izin bertanya , kalau di surat yasin ada ayat yang dibaca Sala *mmun* qowla mirrobbirrohiim oleh mp3 murotal yg saya miliki.. kenapa dibacanya tidak Sala *mung* qowla. Padahal tanwin bertemu huruf qaf seharusnya diikhfakan
Syukron
UlfaHaliza # A 42

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Al-Qur’anul Karim adalah mu’jizat yang abadi, yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sebagai petunjuk. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dalam Bahasa Arab yang sangat tinggi susunan bahasanya dan keindahan balaghahnya.

Bahasa Arab dahulu mempunyai barbagai lahjah (dialek) yang beragam antara satu kabilah dan kabilah lain, baik dari segi intonasi, bunyi maupun hurufnya, namun bahasa Quraisy mempunyai kelebihan dan keistimewaan tersendiri, dan lebih tinggi daripada bahasa dan dialek yang lain, antara lain, karena orang Quraisy berdampingan dengan Baitullah, menjadi pengabdi urusan haji, membangun Masjidil Haram, dan tempat persinggahan dalam perniagaan. Oleh karena itu, wajarlah apabila Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Quraisy kepada seorang rasul yang Quraisy pula, agar dapat menjinakkan orang-orang Arab dan mewujudkan kemu’jizatan Al-Qur’an yang tidak bisa mereka tandingi.

Oleh karena itu perbedaan dialek bangsa Arab tersebut, maka Al-Qur’an yang diwahyukan Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW akan menjadi sempurna kemu’jizatannya apabila ia dapat menampung berbagai dialek dan macam-macam cara membaca Al-Qur’an sehingga memudahkan mereka untuk membaca, menghafal dan memahaminya.

DALIL DITURUNKANNYA AL-QUR’AN DALAM TUJUH HURUF

1) Hadits dari Ibnu Abbas RA, ia berkata :

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أقرأنى جبريل على حرف فراجعته فلم أزل أستزيده و يزيدنى حتى انتهى على سبعة أحرف (رواه البجارى و مسلم و غيره)

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril telah membacakan Al-Qur’an kepadaku dalam satu huruf. Aku berulang-ulang membacanya. Selanjutnya aku selalu meminta kepadanya agar ditambah, sehingga ia menambahnya sampai tujuh huruf. (HR Bukhari, Muslim, dan lainnya)

2) Hadits dari Umar bin Khattab RA, ia berkata :

سمعت هشام بن حكيم يقرأ سورة الفرقان فى حياة رسول الله صلى الله عليه و سلم ، فاستمعت لقراءته ، فإذا هو يقرؤها على حروف كثيرة لم يقرئنيها رسول الله صلى الله عليه و سلم ، فكدت أساوره فى الصلاة ، فانتظرته حتى سلم ، ثم لببته بردائه قلت : من أقرأك هذه السورة ، قال : أقرأ نيها رسول الله صلى الله عليه و سلم ، قلت له : كذبت ، فو الله ، إن رسول الله صلى الله عليه و سلم أقرأنى هذه السورة التى سمعتك تقرؤها ، فانطلقت أقوده إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلت : يا رسول الله ، إنى سمعت هذا يقرأ سورة الفرقان على حروف لم تقرئنيها ، و أنت أقرأتنى سورة الفرقان ، فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أرسله يا عمر ، اقرأ يا هشام ، فقرأ هذه القراءة التى سمعته يقرأها ، قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : هكذا أنزلت ، ثم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : " إن هذا القرآن انزل على سبعة أحرف فاقرأوا ما تيسرمنه " (رواه البخارى و مسلم و ابو داود و النسائى و الترمذى و احمد و ابن جرير)

Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan di masa hidup Rasulullah SAW. Lalu aku sengaja mendengarkan bacaannya. Tiba-tiba dia membaca dengan bacaan yang bermacam-macam yang belum pernah dibacakan Nabi kepadaku. Hampir saja aku serang dia dalam shalat, namun aku berusaha menunggu dengan sabar sampai dia salam. Begitu dia salam aku tarik leher bajunya, seraya aku bertanya, “Siapa yang mengajari bacaan surat ini?” Hisyam menjawab, “yang mengajarkannya adalah Rasulullah sendiri”.  Aku gertak dia, “kau bohong, demi Allah, Rasulullah telah membacakan kepadaku surat yang kau baca tadi (tetapi tidak seperti bacaanmu). Maka kuajak dia menghadap Rasulullah dan kuceritakan peristiwanya. Lalu Rasulullah menyuruh Hisyam membaca surat Al-Furqan sebagaimana yang dibaca tadi. Kemudian Rasulullah berkomentar, “Demikianlah bacaan surat itu diturunkan”. Lalu Rasulullah berkata lagi, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dalam tujuh huruf”, maka bacalah mana yang kalian anggap mudah. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Jarir)

PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG ARTI TUJUH HURUF

1. Sebagian berpendapat tujuh bahasa dari kalangan orang Arab. Yang dimaksud dengan tujuh bahasa tersebut adalah : Quraisy, Tsaqif, Hawazan, Kinanah, Tamim, dan Yaman.

2. Sebagian lainnya mengatakan tujuh bahasa dari orang Arab yang menjadi tempat Al-Qur’an diturunkan. Kebanyakan yang dipakai adalah bahasa Quraisy, ada pula yang merupakan bahasa Hudzail, Tsaqif, Kinanah, Tamim, dan Yaman. Sebagian ulama membenarkan pendapat ini karena didukung oleh Baihaqi dan dipilih oleh Bukhari serta Pengarang kitab Kamus.

3. Tujuh huruf maksudnya tujuh macam (bagian) di dalam Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang mengatakan : amr, nahi, halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amtsal. Ulama lainnya mengatakan : wa’du, wa’id, halal, haram, mawaid, amtsal, dan ihtijaj. Pendapat lainnya lagi mengatakan : muhkam, mutasyabih, nasikh, mansukh, khusus, umum, dan qasas.

4. Yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah beberapa segi lafal yang berbeda, dalam satu kalimat dan satu arti seperti lafal : halumma, aqbil, ta’al, ajjil, isra’, qasdi, dan nahwi.Lafal yang tujuh memiliki satu pengertian, yaitu perintah untuk menghadap. Pendapat ini dikemukakan oleh kebanyakan ahli fikih dan ahli hadis, antara lain Ibnu Jarir, At-Tabari, dan At-Tahawi.

5. Yang dimaksud tujuh huruf adalah mengenai perbedaan dalam tujuh hal :

a. Perbedaan bentuk isim(mufrad, mutsana, jama’, mudzakar, dan muanats).

وَ الَّذِيْنَ هُمْ لِاَمَانَاتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ (المؤمنون : 8)

Dari bentuk jama’ diatas bisa dibaca dalam bentuk mufrad

لِاَمَانَتِهِمْ

b. Perbedaan bentuk fi’il (madhi, mudhari’ amr)

رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ اَسْفَارِنَا (سبأ : 19)

رَبَّنَا بَاعَدَ

Bentuk fi’il amr diatas bisa dibaca dalam bentuk fi’il madhi

رَبُّنَا بَعَّدَ

c. Perbedaan ibdal (penggantian) berupa huruf

وَ انْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْسِزُهَا (البقرة : 259) >> نُنْشِرُهَا

وَ طَلْحٍ مَنْضُوْدٍ (الواقعة : 29) >> طَلْعٍ

وَ تَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِالْمَنْفُوْشِ (القارعة : 5) >> كَالصُّوْفِ

Bisa dibaca dengan menggantikan huruf

d. Perbedaan taqdim (mendahulukan) dan takhir (mengakhirkan)

وَ جَاءَتْ سَكَرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ >> وَ جَاءَتْ سَكَرَةُ الْحَقِّ بِالْمَوْتِ(ق : 19)

فَيَقْتَلُوْنَ وَ يَقْتُلُوْنَ >> فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ

e. Perbedaan bentuk i’rab (rafa’, nasab, jarr, jazam)

وَ اَرْجُلَكُمْ >> وَ اَرْجُلِكُمْ / مَا هذَا بَشَرًا >> مَا هذَا بَشَرٌ (يوسف : 31) / ذُو الْعَرْشِ الْجِيْدِ >> ذُو الْعَرْشِ الْجِيْدُ (البروج : 15)

f. Perbedaan ziyadah (penambahan) dan nuqshon (pengurangan)

وَ مَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَ الْاُنْثى (الليل : 3) / وَ قَلُوْا اتَّخَذَ

g. Perbedaan  lahjah tentang tafkhim, tarqiq, imalah, idzhar,dan idgham

Bacaan imalah

Hal ataaka hadiitsu muusaa

هَلْ اَتَاكَ حَدِيْثُ مُوْسى

Hal ateeka hadiitsu muusee


KESHAHIHAN QIRAAT DAN IMAM-IMAM QIRAAT

Para sahabat Nabi terdiri dari beberapa golongan, tiap golongan mempunyai dialek yang berbeda-beda. Memaksa mereka untuk membunyikan dengan dialek yang tidak biasa mereka ucapkan dapat mempersulit mereka. Untuk memudahkan mereka, Allah yang Maha Bijaksana kemudian menurunkan Al-Qur’an dengan berbagai macam dialek mulai dari dialek Quraisy dan dialek lain di tanah Arab hingga tujuh macam dialek.

Qiraat Al-Qur’an baru dianggap sah bila memenuhi 3 kriteria :

1. Sanadnya mutawatir, yakni bacaan itu diterima dari guru-guru yang dipercaya, tidak ada cacat, sanadnya bersambung kepada Rasulullah SAW.
2. Sesuai dengan Mushaf Utsmani.
3. Sesuai kaidah Bahasa Arab.

Dari segi sanad derajat / level qiraat terbagi menjadi 6 yaitu :

1. Mutawatir, yaitu Qiraat yang diriwayatkan oleh banyak orang pada setiap generasi dari awal sampai akhir bersambung hingga Rasulullah SAW.

2. Masyhur, yaitu Qiraat yang mempunyai sanad shahih, tetapi jumlah perawinya tidak sebanyak yang mutawatir.

3. Ahad, yaitu Qiraat yang mempunyai Sanad yang shahih, tetapi tidak cocok dengan Mushaf Usmani dan kaidah Bahasa Arab.

4. Syadz (janggal/ganjil), yaitu qiraat yang tidak memenuhi tiga syarat sah untuk diterimanya Qiraat.

5. Mudraj, yaitu Qiraat yang sisipkan ke dalam ayat Al-Qur’an.

6. Maudhu’ (palsu), yaitu Qiraat buatan, disandarkan kepada seseorang tanpa dasar, tidak memiliki sanad & rawi.

Dari level Qiraat diatas, Qiraat yang sah diamalkan adalah qiraat yang Mutawatir dan Masyhur.

Qiraat yang Mutawatir disebut dengan qiraat sab'ah, dengan imamnya sebagai berikut:
1. Nafi’
2. Ibnu Katsir
3. Abu Amr
4. Ibnu Amir
5. ‘Ashim
6. Hamzag
7. Al-Kisai
           
Ketujuh macam qiraat di atas yang diriwayatkan oleh tujuh imam qiraat di atas merupakan Qiraat Mutawatir, sedangkan selain di atas, ada 3 lagi qiraat dengan derajad Masyhur dengan 3 imam qiraat (Qiraat Sepuluh), yaitu:
1. Abu Ja’far
2. Ya’qub
3. Khalaf

PENUTUP

Al-Qur’an merupakan Kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab. Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh seluruh orang Arab dengan maksud untuk mempermudah mereka dalam memahaminya dan sebagai kemu’jizatan serta sebagai ajakan bertanding kepada orang-orang yang pandai bicara agar mendatangkan satu surat atau satu ayat. Di samping itu, untuk mempermudah bacaan, pemahaman dan hafalan Al-Qur’an kepada mereka karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka. Allah SWT berfirman :

"Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya."

Dengan diturunkannya Al-Qur’an dengan beragam bacaan mengandung beberapa hikmah. Hikmah diturunkannya Al-Qur’an dalam Tujuh Huruf antara lain :

1. Mempermudah umat Islam, khususnya bangsa Arab yang menjadi tempat diturunkannya Al-Qur’an, sedangkan mereka memiliki beberapa lahjah (dialek) meskipun mereka bisa disatukan oleh sifat kearabannya. Rasulullah SAW bersabda : “Agar mempermudah umatku”. Dan sesungguhnya umatku tidak mampu melaksanakannya.” Dan lain-lain.

2. Seorang ahli tahqiq Ibnu Jazari berkata, “Adapun sebabnya Al-Qur’an didatangkan dalam tujuh huruf adalah: memberikan keringanan kepada umat, serta memberikan kemudahan sebagai bukti kemuliaan, keluasaan, rahmat, dan spesialisasi yang diberikan kepada umat utama di samping untuk memenuhi tujuan nabinya sebagai makhluk yang paling utama dan kekasih Allah telah memerintahkan umatnya untuk membacakan Al-Qur’an dengan satu huruf”. Kemudian Nabi SAW menjawab, “Aku meminta maghfirah kepada Allah karena umatku tidak mampu melakukannya”. Beliau terus mengulang-ulang pernyataannya sampai dengan tujuh huruf.

3. Imam Jazari mengatakan: Al-Qur’an diturunkan dari tujuh pintu dengan tujuh huruf, sedangkan kitab-kitab terdahulu diturunkan dari satu pintu dengan satu huruf. Hal itu karena Nabi-nabi terdahulu diutus untuk bangsa tertentu, sedangkan Nabi SAW diutus untuk semua umat manusia dan bagi bangsa Arab sendiri. Bagi bangsa Arab sendiri walaupun Al-Qur’an diturunkan dalam bahasanya sendiri tetap sangat sulit untuk membaca Al-Qur’an dalam satu huruf meskipun telah belajar dan berusaha keras karena memiliki dialek yang berbeda-beda.

4. Menyatukan umat Islam dalam satu bahasa Quraisy yang tersusun dari berbagai bahasa pilihan di kalangan suku-suku bangsa Arab.

Al-Qur’an berkembang menjadi suatu ilmu tersendiri yang perlu dikembangkan oleh umat Islam. Menurut bahasa, qiraat artinya bacaan, maka ilmu qiraat berarti ilmu bacaan. Menurut istilah Ilmu Qiraat berarti :

علم يعرف به كيفية النطق فى الكلمات القرآنية و طريق ادائها اتفاقا واختلاقا مع عزو كل وجه لناقله

Ilmu yang membahas tentang tata cara pengucapan kata-kata Al-Qur’an berikut cara penyampaian, baik yang disepakati (ulama ahli Al-Qur’an) maupun yang terjadi perbedaan pendapat, dengan menisbatkan setiap wajah bacaan kepada seorang imam qiraat.

Pertama kali Ilmu Qiraat disusun oleh para imam qiraat. Sebagian ulama mengatakan yang pertama kali menyusun ilmu qiraat adalah Abu Umar Hafsh bin Umar Ad-Duri. Sedangkan yang pertama kali membukukannya adalah Ubaid Al-Qasim bin Salam.

Hukum mempelajari ilmu qiraat para ulama berpendapat hukumnya fardhu kifayah. Komisi Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya 2 Maret 1983 memutuskan bahwa :

1. Qiraat Sab’ah (Qiraat 7) adalah sebagian dari Ulumul Qur’an yang wajib diperkembangkan dan dipertahankan.

2. Pembacaan Qiraat Tujuh dilakukan pada tempat-tempat yang wajar oleh pembaca yang berijazah (yang belajar dari ahli Qiraat).

Majam’ul Buhus (Lembaga Riset) Al-Azhar Cairo dalam muktamarnya tanggal 20-27 April 1971 telah memutuskan bahwa Qiraat Al-Qur’an itu bukanlah hasil ijtihad, melainkan sebagai taufiqi (ketentuan Tuhan) yang berpegang kepada riwayat-riwayat yang mutawatir. Muktamar mendorong dan menggalakan para pembaca Al-Qur’an agar tidak hanya membaca dengan Qiraat Hafsh saja, demi untuk menjaga qiraat-qiraat yang lain yang telah diyakini kebenarannya agar jangan terlupakan dan musnah. Muktamar juga menghimbau seluruh negara-negara Islam agar menggalakkan mempelajari qiraat ini di lembaga-lembaga pendidikan khusus yang dikelola para pakar ilmu qiraat yang terpercaya keahliannya. Wallahu a'lam

Referensi

Ilmu Al-Qur’an & Tafsir, Karya : Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Semarang, penerbit : PT Pustaka Rizki Putra, 2009.

Kaidah Qiraat Tujuh, Karya : Ahmad Fathoni, Lc,MA, Jakarta, Institut PTIQ & Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dan Darul Ulum Press Jakarta, 1991.

Studi Ilmu Al-Qur’an, karya : Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shaabuuniy, Bandung, penerbit : Pustaka Setia, 1999.

Cara Cepat Belajar Tajwid Praktis, karya : KH. As’ad Humam, Yogyakarta, Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus “AMM” Yogyakarta, 2002.

Syaamil Al-Qur’an, Al-Qur’an Terjemah per kata, Bandung.
loading...
loading...