Mengenal Allah SWT



Sobat, Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Kekuasaan-Nya tidak terbatas, kekuatan-Nya tidak terukur, Keluasan ilmu-Nya tidak dikrtahui, kebesaran-Nya tidak dapat ditandingi oleh siapapun. Karena itu keagungan dan kebesaran hanya milik Allah SWT. Sedangkan manusia, betapapun hebatnya, ia hanyalah salah satu dari makhluk dari sekian makhluk Allah SWT yang sangat membutuhkan pertolongan dan perlindungan dari-Nya


Apabila manusia menyadari hakikat tersebut maka ia pasti akan beriman dan patuh kepada Allah SWT. Merendah dihadapan-Nya dan menerima kebenaran dengan tulus dari siapapun juga. Sebab hakikatnya kebenaran datangnya dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:


“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah: 147)


Oleh karena itu, semakin orang mengenal Allah SWT, maka akan semakin kuat imnnya dan semakin takut kepada-Nya.


Untuk menumbuhkan keimanan yang sempurna kepada allah SWT maka kita harus berusaha, tanpa berusaha tidak mungkin keimanan itu datang dengan tiba-tiba. Untuk mendatangkan keimanan yang sempurna kita harus mengenal siapa Allah SWT. Mengenal dan mengetahui betul siapa Allah SWT. Yang perlu ditekankan, mengenal Allah SWT bukan lewat dzat-Nya melainkan mengenal Allah SWT lewat tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya.


Urgensi Mengenal Allah SWT


 Fren, orang yang mengenal Allah SWT dengan sebenar-benar pengenalan akan menyadai bahwa allah SWT yang Maha Kusa, maha Kaya, Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana, tidak membutuhkan sesuatupun dari manusia. Karenanya jika mendapat kebaikan akan memuji Allah SWT, dan bersyukur kepada-Nya dan tidak menyombongkan diri atau lupa diri, sebab tidak akan mampu berbuat apa-apa tanpa bantuan dan pertolongan-Nya dan bila mendapat keburukan maka segera melakukan intropeksi.


Orang yang telah mengenal Allah SWT akan menyadari tugas yang harus ia emban dalam kehidupan di dunia ini yaitu beribadah kepada-Nya untuk mencari keridhaan-Nya. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah SWT akan menyombongkan diri di dunia ini, dan manusia yang menyombongkan diri sama saja menantang Allah SWT, dan menjadikan dirinya sebagai saingan bagi-Nya. Orang yang menyombongkan diri adakah orang yang tidak mengenal pencipta dan pengatur jagad rayaini yaitu Allah SWT.


Dengan mengenal Allah SWT, maka kita dapat mengetahui dengan pasti apa tujuan hidup kita, Allah SWT berfirman:


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)


Dengan mengenal Allah SWT kita tidak mudah tertipu oleh gemerlapnya dunia, kita akan merasakan kehidupan yang lapang walau bagaimanapun keadaan dan seberat apaun masalah yang dihadapi. Karena kita yakin Allah SWT pasti memberi yang terbaik bagi hamba-Nya. dan akan menuntun orang-orang yang mengenal-Nya dari kebodohan dan kegelapan menuju cahaya yang terang, Allah SWT berfirman:


“Dan Apakah orang yang sudah mati[1] kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am: 122)


[1] Maksudnya ialah orang yang telah mati hatinya Yakni orang-orang kafir dan sebagainya.


Maka sungguh beruntung apabila seseorang itu kenal dengan Allah SWT, sehingga dicintai dan ditolong oleh Allah SWT. Dia akan mendapatkan segala-galanya, bahagia, sukses selama-lamanya di surga.


Iman Kepada allah SWT


Guys, apabila kita mengenal allah SWT maka kita pasti akan beriman kepada allah SWT, semakin mengenal Allah SWT maka semakin meningkat pula iman kita. Lalu apa yang harus kita imani?


Pertama, Iman kepada adanya Allah SWT. Keberadaan allah SWT ini telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syariat dan indera.


Fitrah yang telah Allah berikan kepada seluruh manusia menunjukkan adanya Allah SWT, sang Maha Pencipta. Karena seluruh makhluk diciptakan untuk beriman kepada penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada makhluk yang berpaling dari fitrah itu kecuali hatinya telah dimasuki oleh sesuatu yang dapat memalingkannya dari fitrh tersebut. Hal ini telah disabdakan oleh Nabi SAW:


“Tidak ada seorangpun yang terlahir melainkan di ats (dalam keadaan) fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim)


Akal juga menyatakan keberadaan Allah SWT, karena seluruh makhluk yang ada ini, termasuk yang sudah berlalu maupun yang akan datang kemudian, sudah tentu ada pencipta yang menciptakannya. Tidak mungkin makhluk itu menciptakan dirinya sendiri atau ada dengan sendirinya. allah SWT berfirman:


“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Ath Thur: 35)


Sobat, ada baiknya kita mengambil satu contoh untuk memperjelas hal itu. Jika seseorang menceritakan kepadamu tentang sebuah istana yang megah, yang dikelilingi oleh berbagai tanaman, ada sungai-sungai yang mengalir di antara bangunan istana itu, dipenuhi dengan berbagai permadani, dipercantik dengan berbagai perhiasan pada bangunan-bangunannya, lalu ia berkata kepadamu: “Sesungguhnya istana ini ada dengan sendirinya, tercipta oleh dirinya sendiri tanpa ada yang menciptakannya.” maka anda tentu langsung mendustakannya dan pasti anda akan mengira dia itu orang gila.


Petunjuk syariat juga menyatakan bahwa Allah SWT itu ada, sebab semua kitab-kitab samawi (Taurat, Zabur, Injil dan Al Quran) seluruhnya menyatakan demikian. Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab samawi itu berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan makhluk merupakan bukti bahwa itu datng dari Dzat yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu yang terbaik bagi makhluk-Nya.


Petunjuk indera yang menunjukkan keberadaan Allah SWT dapat dilihat dengan mendengar dan menyaksikan dikabulkannya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongnya orang-orang yang kesusahan, yang semua itu menunjukkan adanya Allah SWT.


Allah SWT berfirma:


“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika Dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan Dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” (Al Anbiya’: 76)


“(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka).” (Al Anfal: 9)


Dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits dari Anas bin Malik ra bahwa orang badui masuk kedalam masjid pada hari Jum’at, sementara Nabi SAW sedang berkhutbah. Orang itu lantas berkata: “Ya Rasulullah SAW, harta kami musnah dan keluarga kami kelaparan, maka berdoalah kepada Allah SWT buat kami.” akhirnya Rasulullah SAW mengangkat kedua tangan dan berdoa. Tak lama kemudian, awan sebesar gunung pun tiba, sementara beliau masih di atas mimbar, sehingga aku lihat air hujan bercucuran dari jenggot beliau. Pada hari Jum’at berikutnya si arab badui itu  atau lainnya berdiri lants berkata: “Ya Rasulullah SAW, bangunan rumah kami roboh dan harta kami tenggelam. Maka berdoalah kepada Allah SWT untuk kami. Akhirnya Rasulullah mengangkat kedua tangan dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami.” Akhirnya tidaklah beliau menunjuk pada suatu arah (tempat) melainkan menjadi terang (tanpa hujan).


Selain itu juga dengan ayat-ayat (tanda-tanda) para Nabi yang dinamakan mukjizat.


Kedua, Iman kepada rububiyah-Nya (artinya bahwa Allah SWT adalah satu-satunya rabb yang tidak mempunyai sekutu maupun penolong). Rabb adalah Dzat yang berwenang mencipta, memiliki dan memerintah. Tiada pencipta selain Allah SWT, tiada yang memiliki kecuali Allah SWT, serta tiada yang berhak memerintah kecuali Allah SWT. (Al A’raf: 54 dan Fathir: 13).


Ketiga, Iman kepada uluhiyah-Nya (artinya bahwa Allah SWT satu-satunya Tuhan yang haq, tiada sekutu baginya). Kata Tuhan disini bermakna ma’bud yang berarti yang disembah atau diibadahi atas dasar kecintaan dan pegangan.


Keempat, Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Artinya menetapkan apa saja yang telah ditetapkan Allah SWT, bagi diri-Nya yang tersebut dalam kitab-Nya atau sunnah Rasul-Nya tentang nama-nama dan sifat-sifat sesuai yang layak bagi-Nya. Wallahu a’lam.


Slamet Setiawan

suksesberkah.com







loading...
loading...