Nilai Nafkah Dalam Fiqih

Kalau kita buka berbagai kitab fiqih, khususnya bab-bab yang berbicara tentang angka nilai nafkah, maka kita akan menemukan setidaknya empat pendapat para ulama yang berbeda.

1. Pendapat Pertama : Secukupnya

Pendapat pertama adalah pendapat mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, sebagian penganut mazhab As-Syafi'iyah dan kebanyakan pemeluk mazhab Al-Hanabilah.

Mereka menyebutkan bahwa tidak ada standarisasi nilai nafkah yang ditetapkan secara baku, semua dikembalikan unsur kecukupan dan kepantasan saja. Dan istilah ini diwakili dengan lafadz bil-ma'ruf(بالمعروف) yang tersebar di dalam berbagai dalil, baik dari Al-Quran atau pun dari As-sunnah.

Dalilnya adalah ayat 233 dari Surat An-Nisa' diatas, yaitu suami wajib memberi nafkah kepada istri dengan nilai yang makruf. Istilah makruf ini ditafsirkan oleh pendapat pertama sebagai 'secukupnya' atau kurang lebih 'sewajarnya'.

Selain itu juga ada hadits tentang istri Abu Sufyan yang komplain kepada Rasulullah SAW atas kecilnya nafkah yang diterimanya. Lantas Rasulullah SAW membolehkannya untuk mengambil sendiri harta suaminya, tetapi dengan ukuran sewajarnya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( دَخَلَتْ هِنْدُ بِنْتُ عُتْبَةَ -اِمْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ- عَلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم . فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ اَلنَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ, إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ, فَهَلْ عَلَِيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ? فَقَالَ: خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ, وَيَكْفِي بَنِيكِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Hindun binti Utbah istri Abu Sufyan masuk menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan adalah orang yang pelit. Ia tidak memberiku nafkah yang cukup untukku dan anak-anakku kecuali aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah yang demikian itu aku berdosa? Beliau bersabda: "Ambillah dari hartanya yang cukup untukmu dan anak-anakmu dengan baik." (HR. Bukhari Muslim)

Kebanyakan pasangan suami istri memang menggunakan pendekatan pendapat pertama ini. Namun sebenarnya istilah 'secukupnya' kalau mau ditelusuri, masih meninggalkan tanda tanya juga, karena nilainya tidak pasti. Sebab boleh jadi urusan cukup atau tidak cukup ini buat tiap istri berbeda-beda nilainya.

Apalagi kalau kasusnya seorang punya istri lebih dari satu, dan masing-masing pasang tafir atas nafkah yang menjadi hak mereka. Maka istilah 'secukupnya' boleh jadi tidak menyelesaikan masalah, karena sifatnya sangat relatif.

2. Pendapat Kedua

Belum tuntasnya ukuran nilai nafkah di atas, akan terjawab kalau kita pindah pada pendapat kedua, yang merupakan pendapat mazhab Asy-Syafi'iyah secara muktamad, dan juga pendapat Al-Qadhi dari kalangan mazhab Al-Hanabilah.

Mereka menyebutkan bahwa harus ada ukuran minimal standar nilai nafkah yang wajib diberikan suami kepada istrinya. Dan ukurannya ditetapkan dalam bentuk bahan makanan pokok yang wajib diberikan per hari, oleh suami kepada istri.

Ukuran minimal nafkah itu menurut pendapat As-Syafi'iyah, bahwa setiap harinya seorang suami wajib memberi bahan makanan pokok kepada istrinya satu mud gandum atau kurma. Dan buat suami yang agak luas rejekinya, minimal dua mud. Dan bila berada di tengah-tengah, maka jumlahnya satu mud setengah.

Istilah mud merupakan ukuran volume, yang biasanya di masa Rasulullah SAW digunakan untuk menyebutkan banyaknya suatu makanan. Kata mud sendiri bemakna dua genggaman tangan. Maka kalau disebutkan gandum sejumlah satu mud, berarti gandum sebanyak yang bisa ditampung dengan kedua talapak tangan mannusia.

Di dalam Kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhususunan Dr. Wahbah Az-Zuhaili bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 0,688 liter atau 688 ml.

Sedangkan Al-Qadhi dari mazhab Al-Hanabilah menyebutkan minimal seorang suami wajib memberi nafkah kepada istrinya berupa bahan makanan pokok seberat dua rithl. Ukuran rithl (bukan liter) adalah ukuran yang biasa digunakan pada masa lalu untuk mengukur berat makanan.

Pertanyaannya, dari manakah Al-Qadhi mendatangkan angka 2 rithl ini?

Ternyata angka itu adalah qiyas dari kewajiban untuk membayar kaffarah. Karena keduanya sama-sama merupakan kewajiban yang identik, yaitu memberi makan. Kalau kaffrah adalah memberi makan fakir miskin sebanyak dua rithl, maka kewajiban memberi makan istri setidak-tidaknya seperti halnya memberi makan kepada fakir miskin, yaitu besarnya juga dua rithl.

Kalau dibandingkan dengan ukuran berat di zaman sekarang, banyak ulama kontemporer yang menyebutkan bahwa satu rithl setara dengan 454 gram. Jadi dua rithl itu sama dengan 908 gram atau mendekati satu kilo.

3. Pendapat Ketiga

Pendapat menyebutkan bahwa kadar ukuran nafkah yang wajib diberikan suami kepada istrinya ditetapkan oleh negara, yang dalam hal ini oleh pemerintah, qadhi atau sultan.

Pemerintah adalah waliyyul-amr, atau orang yang diamanahi urusan umat Islam. Dalam pandangan ini, apa yang belum ditetapkan nilainya di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, maka menjadi tugas dari pemerintah yang sah. Sehingga berapa besaran nilai nafkah yang wajib dikeluarkan oleh suami kepada istrinya, maka harus menunggu ketetapan dari negara atau pemerintah.

Kalau kita menggunakan pendapat ini, maka kurang lebih mirip di zaman sekarang ini dengan upah minimum regional (UMR), yang ditetapkan oleh penguasa kepada para pengusaha. Jadi semua dikembalikan kepada negara, berapa kira-kira nilai nafkah yang wajib dikeluarkan oleh seorang suami.

Pendapat ini adalah pendapat sebagian dari para ulama yang bermazhab Asy-Syafi'iyah.

4. Pendapat Keempat

Pendapat yang keempat atau yang terakhir menyebutkan bahwa nilai besaran nafkah yang wajib diberikan suami kepada istrinya ditetapkan berdasarkan urf atau tradisi yang berlaku di suatu tempat. Dan boleh jadi satu tempat dengan tempat lainnya berbeda-beda dalam menetapkan nilai nafkah.

Misalnya di suatu desa sudah mentradisi bahwa nakfah yang wajib diberikan adalah seluruh gaji, maka otomatis semua gaji suami menjadi nafkah buat istrinya. Namun bisa saja di tempat yang lain, kebiasaan yang berlaku berbeda lagi.

Pendapat yang terakhir ini juga merupakan pendapat sebagian lain dari para ulama di dalam keluarga besar mazhab Asy-Syafi'i. Wallahu a'lam.
loading...
loading...