Surat An Nashr: Kemenangan datangnya Dari Allah, Maka Pujilah Dia

Oleh: Slamet Setiawan | suksesberkah.com

Bunyi Ayat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (١)
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (٢)
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (٣)

Iftitah

Seluruh Ulama Tafsir bersepakat bahwa surat An Nashr ini merupakan surat Madaniyah walaupun turun di Makkah, yaitu  pada saat haji wada’. Dan ini menjadi dalil bahawa surat Madaniyah tidak selalu turun di kota Madinah.

Imam Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir Al Qur’anul Azhim menurunkan suatu riwayat, tidaklah seorang Nabi diberikan umur dakwah separuh dari umur dakwah Nabi sebelumnya. Dakwah Nabi Isa as  berumur 40 tahun. Dan Rasullullah saw mempunyai umur  dakwah sekitar 20 tahunan.

Surat An Nashr merupakan tanda-tanda datangnya ajal Rasulullah saw. Sehingga Fatimah ra menangis setelah mendengar kabar ini. Namun  setelah itu tersenyum setelah Nabi saw memberikan kabar bahawa Fatimah ra akan segera menyusul Nabi saw. Sedangkan dari kalangan  isteri Nabi saw yang paling cepat menyusul Nabi saw adalah Zainab binti Jahsyi ra.

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
كَانَ عُمَرُ يُدْخِلُنِي مَعَ أَشْيَاخِ بَدْرٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِمَ تُدْخِلُ هَذَا الْفَتَى مَعَنَا وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ فَقَالَ إِنَّهُ مِمَّنْ قَدْ عَلِمْتُمْ قَالَ فَدَعَاهُمْ ذَاتَ يَوْمٍ وَدَعَانِي مَعَهُمْ قَالَ وَمَا رُئِيتُهُ دَعَانِي يَوْمَئِذٍ إِلَّا لِيُرِيَهُمْ مِنِّي فَقَالَ مَا تَقُولُونَ فِي
{ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا }
حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ أُمِرْنَا أَنْ نَحْمَدَ اللَّهَ وَنَسْتَغْفِرَهُ إِذَا نُصِرْنَا وَفُتِحَ عَلَيْنَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نَدْرِي أَوْ لَمْ يَقُلْ بَعْضُهُمْ شَيْئًا فَقَالَ لِي يَا ابْنَ عَبَّاسٍ أَكَذَاكَ تَقُولُ قُلْتُ لَا قَالَ فَمَا تَقُولُ قُلْتُ هُوَ أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمَهُ اللَّهُ لَهُ
{ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ }
فَتْحُ مَكَّةَ فَذَاكَ عَلَامَةُ أَجَلِكَ
{ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا }
قَالَ عُمَرُ مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلَّا مَا تَعْلَمُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'man Telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Abu Bisyr dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas ra. “Umar ra pernah mengajakku dalam sebuah majlis orang dewasa, sehingga sebagian sahabat bertanya, “Mengapa si anak kecil ini kau ikut sertakan, kami juga punya anak-anak kecil seperti dia?” Umar ra menjawab, “Seperti itulah yang kalian tahu.”

Suatu hari Umar ra mengundang mereka dan mengajakku bersama mereka. Seingatku, Umar ra tidak mengajakku saat itu selain untuk mempertontonkan kepada mereka kualitas keilmuanku. Lantas Umar ra bertanya, “Bagaimana komentar kalian tentang ayat (yang artinya), “Seandainya pertolongan Allah dan kemenangan datang dan kau lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, hingga ahkir surat. (QS. An Nashr: 1-3). Sebagian sahabat berkomentar (menafsirkan ayat tersebut), “Tentang ayat ini, setahu kami, kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampunan kepada-Nya, ketika kita diberi pertolongan dan diberi kemenangan.” Sebagian lagi berkomentar, “Kalau kami tidak tahu.” Atau bahkan tidak ada yang berkomentar sama sekali. Lantas Umar ra bertanya kepadaku, “Wahai Ibnu Abbas, beginikah kamu menafsirkan ayat tadi? “Tidak”, jawabku. “Lalu bagaimana tafsiranmu?”, tanya Umar ra. Ibnu Abbas ra menjawab, “Surat tersebut adalah pertanda wafatnya Rasulullah saw sudah dekat. Allah swt memberitahunya dengan ayatnya: “Jika telah datang pertolongan Allah swt dan kemenangan’, itu berarti penaklukan Makkah dan itulah tanda ajalmu (Muhammad), karenanya “Bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.” Kata Umar ra, “Aku tidak tahu penafsiran ayat tersebut selain seperti yang kamu (Ibnu Abbas) ketahui.”” (HR. Bukhari no. 4294)

Asbabun Nuzul

Diriwayatkan ketika Rasulullah  masuk ke kota Makkah pada waktu Fathu Makkah, Khalid bin  Al-Walid telah diperintahkan untuk memasuki Makkah melalui dataran rendah untuk bertempur dengan pasukan Quraisy dan menyerangnya serta merampas harta mereka sehingga memperoleh kemenangan.

Kemudian orang-orang Quraisy masuk Islam secara beramai-ramai. Maka turunlah ayat ini, dan Allah memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya atas kemenangan yang diperoleh serta meminta ampun atas kesalahan yang telah dilakukan.

Tafsir Ayat

ayat 1
“Apabila telah datang pertolongan Allah swt dan kemenangan.”

Bila kemenangan atas orang-orang kafir Quraisy telah terwujud bagimu, wahai Rasul, dan penaklukan kota Makkah telah terlaksana.

Ayat 2
“Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah swt.”

Dan kamu menyaksikan orang-orang dalam jumlah besar masuk Islam secara berkelompok-kelompok.

Ayat 3
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat.’

Bila semua itu terjadi, maka bersiaplah untuk bertemu Tuhanmu dengan memperbanyak bertasbih dengan memuji-Nya, dan memperbanyak istighfar kepada-Nya, sesungguhnya Dia melimpahkan ampunan-Nya kepada orang-orang yang bertasbih dan beristighfar, Dia mengampuni mereka, menyayangi mereka dan menerima taubat mereka.

Pelajaran

Pertama, dianjurkannya bacaan ruku’ dan sujud yang berisi tahmid dan tasbih: “Subhanakallahumma robbana wa bi hamdika, Allahummagh firlii.”

‘Aisyah ra mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ

Saat rukuk dan sujud Nabi saw memperbanyak membaca do’a: ‘ Subhanakallahumma robbana wa bi hamdika, Allahummagh firlii (Maha suci Engkau wahai Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Ya Allah ampunilah aku) ‘, sebagai pengamalan perintah Al Qur’an.” (HR. Bukhari no. 4968 dan Muslim no. 484. An Nawawi membawakan hadits ini dalam Bab “Bacaan ketika ruku’ dan sujud”)

Juga dari ayat ini dianjurkan dzikir “Subhanallah wa bi hamdihi astaghfirullah wa atuubu ilaih”. Dzikir ini sering dibaca oleh Rasulullah saw sebelum beliau meninggal dunia. Terdapat riwayat,

عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ « سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ». قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ. فَقَالَ « خَبَّرَنِى رَبِّى أَنِّى سَأَرَى عَلاَمَةً فِى أُمَّتِى فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ. فَقَدْ رَأَيْتُهَا (إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ) فَتْحُ مَكَّةَ ( وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِى دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا) ».

“Dari Masruq dari Aisyah ra dia berkata, “Dahulu Rasulullah saw memperbanyak perkataan, ‘ Subhanallah wa bi hamdihi astaghfirullah wa atuubu ilaih (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, aku memohon ampunan kepada Allah dan aku bertaubat kepadaNya)’.” Aisyah ra berkata, “Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku melihatmu memperbanyak perkataan, Subhanallah wa bi hamdihi astaghfirullah wa atuubu ilaih (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya). Maka beliau menjawab, ‘Rabbku telah mengabarkan kepadaku bahwa aku akan melihat suatu tanda pada umatku, ketika aku melihatnya maka aku memperbanyak membaca, Subhanallah wa bi hamdihi astaghfirullah wa atuubu ilaih (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya)’. Maka sungguh aku telah melihatnya, yaitu (ketika pertolongan Allah datang dan pembukaan-Nya) yaitu penaklukan kota Makkah, dan dan kamu telah melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, lalu bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan memohon ampunlah, sesungguhnya Dia Maha Pemberi taubat’.”” (HR. Muslim no. 484)

Kedua, wajibnya bersyukur ketika mendapatkan nikmat. Oleh karena itu, disyariatkannya sujud syukur ketika mendapatkan nikmat (luar biasa).

Ketiga, keistimewaannya tafsir Ibnu ‘Abbas daripada tafsir sahabat lainnya.

Keempat, surat ini sebagai tanda semakin dekat wafatnya Rasulullah saw.

Kelima, disunnahkan membaca dzikir “Subhanakallahumma robbana wa bi hamdika, Allahummagh firlii” ketika ruku’ dan sujud.

Keenam, dianjurkan membaca dzikir “Subhanallah wa bi hamdihi astaghfirullah wa atuubu ilaih”.

Wallahu a’lam.

[Ditulis pada Ahad malam, 30 Oktober 2016 di Desa Labuhan Ratu Baru di temani istri dan celoteh si kecil putraku.]

Referensi:
Tafsir Al Muyassar, Mujamma’ Raja Fahd
Ahkamul Qur’an, Al Jashshosh, Mawqi’ Al Islam
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah
Ensiklopedia Hadits 9 Imam, Lidwa Pustaka


loading...
loading...