TADABUR AL-QURAN

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL Lc.

Selain MEMBACA Al-Quran secara RUTIN dengan frekuensi khatam yang memadai, seorang muslim dan muslimah juga WAJIB mengusahakan keakraban dengan Al-Quran melalui TADABBUR.

MAKNA TADABBUR

التَّدَبُّرُ فِي اللُّغَةِ : عِبَارَةٌ عَنِ النَّظَرِ فِي عَوَاقِبِ الْأُمُوْرِ

Arti tadabbur menurut bahasa:
'ungkapan tentang memandang kepada pengaruh atau akibat dari sesuatu.'
(At-Ta’rifat, Al-Jurjani, hlm 54).

وَفِي الاِصْطِلاَحِ : تَأَمُّلُ الْقُرْآنِ بِقَصْدِ الاِتِّعَاظِ وَالاِعْتِبَارِ

Menurut istilah ulama:

Merenungkan Al-Quran dengan maksud mendapat nasihat dan pelajaran.

(Tahrir Ma’na At-Tadabbur ‘Inda Al-Mufassirin, Makalah Dr. Fahd Mubarak Abdullah)

Dari maknanya baik secara bahasa maupun istilah dapat disimpulkan bahwa:

1. Tadabbur ayat Al-Quran dapat dilakukan setelah kita MEMAHAMI ARTI ayat secara umum dengan benar, meskipun hanya potongan ayatnya, atau beberapa kata di dalamnya.

Karena seseorang tidak dikatakan memandang apa yang ada dibalik sesuatu jika ia tidak mengetahui yang tampak jelas dari sesuatu itu.

Atau ia tidak dianggap sedang merenungkan tujuan, pengaruh atau akibat suatu kata atau kalimat atau ucapan jika ia tidak memahami arti harfiahnya dengan benar.

2. Tujuan dari tadabbur Al-Quran adalah memperoleh NASIHAT dan PELAJARAN dari ayat-ayatnya agar bertambah iman.

Maksud dari kata “itti’azh” dalam definisi adalah terpengaruh dengan mauizhah/nasihat, atau menerima mauizhah dengan hati, bukan sekadar informasi yang diterima akal.

Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, tatkala menerima mauizhah dari beliau:

وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ ...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kami mauizhah (nasihat) yang membuat hati-hati ini bergetar dan mata menangis..

(potongan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud & Tirmidzi, lihat hadits ke-28 dari Hadits Arba’in Imam Nawawi).

TADABBUR ADALAH SALAH SATU TUJUAN AL-QURAN DITURUNKAN

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai akal pikiran. (QS. Shad: 29).

Asy-Syaukani berkata:

وَفِي الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ إِنَّمَا أَنْزَلَ الْقُرْآنَ لِلتَّدَبُّرِ وَالتَّفَكُّرِ فِي مَعَانِيهِ، لَا لِمُجَرَّدِ التِّلَاوَةِ بِدُونِ تَدَبُّرٍ

Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah subhanahu wa ta’ala hanyalah menurunkan Al-Quran untuk dilakukan tadabbur dan berpikir pada makna ayat-ayatnya, bukan sekadar membaca tanpa tadabbur.
(Fath Al-Qadir, Asy-Syaukani, hlm 4/494).

Penulis kitab tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir berkata:

وَكُلُّ آيَاتِ الْقُرْآنِ مُبَارَكٌ فِيهَا لِأَنَّهَا: إِمَّا مُرْشِدَةٌ إِلَى خَيْرٍ، وَإِمَّا صَارِفَةٌ عَنْ شَرٍّ وَفَسَادٍ، وَذَلِكَ سَبَبُ الْخَيْرِ فِي الْعَاجِلِ وَالْآجِلِ وَلَا بَرَكَةَ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِك. وَالتَّدَبُّرُ: التَّفَكُّرُ وَالتَّأَمُّلُ الَّذِي يَبْلُغُ بِهِ صَاحِبُهُ مَعْرِفَةَ الْمُرَادِ مِنَ الْمَعَانِي، وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي كَلَامٍ قَلِيلِ اللَّفْظِ كَثِيرِ الْمَعَانِي الَّتِي أُودِعَتْ فِيهِ بِحَيْثُ كُلَّمَا ازْدَادَ المُتَدَبِّرُ تَدَبُّرًا انْكَشَفَتْ لَهُ مَعَانٍ لَمْ تَكُنْ بَادِيَةً لَهُ بَادِئَ النَّظَرِ.

Dan semua ayat-ayat Al-Quran adalah diberkahi karena ia merupakan pemberi arahan kepada kebaikan atau penghalang dari kejahatan dan kerusakan, dan hal itu adalah sebab bagi kebaikan di dunia maupun akhirat, dan tak ada keberkahan yang lebih agung daripada hal itu.

Dan makna tadabbur adalah berpikir dan merenung yang menyampaikan pelakunya kepada tujuan dari makna (ayat-ayat)nya.

Hal itu hanya terjadi pada ucapan yang jumlah lafazhnya sedikit tapi sarat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dimana setiap kali pelaku tadabbur menambah tadabburnya tersingkaplah kandungan nilai-nilai yang belum tampak di awal perenungan. (At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad At-Thahir ‘Asyur, 23/251-252).

BERTAMBAH IMAN ADALAH TUJUAN UTAMA TADABBUR

Allah berfirman ditujukan kepada orang-orang kafir:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa: 82)

Ayat di atas memerintahkan orang-orang yang tidak atau belum beriman untuk merenungkan makna ayat-ayat Al-Quran dengan sikap obyektif agar mereka beriman kepada Al-Quran bahwa ia benar-benar firman Allah, sebab jika bukan firmanNya, pasti mereka akan menemukan pertentangan di dalamnya.

Juga firman Allah yang ditujukan kepada orang-orang munafik:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24).

Asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullah berkata:

«أَمْ عَلى قُلُوبٍ أَقْفالُها؟» فَهِيَ تَحُوْلُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْقُرْآنِ وَبَيْنَهَا وَبَيْنَ النُّوْرِ؟ فَإِنَّ اسْتِغْلاَقَ قُلُوْبِهِمْ كَاسْتِغْلاَقِ الأَقْفَالِ الَّتِي لاَ تَسْمَحُ بِالْهَوَاءِ وَالنُّوْرِ!

Ataukah hati mereka terkunci?
Sehingga ia (hati yang terkunci itu) membatasi antara ia dengan Al-Quran, antara ia dengan cahaya?

Karena sesungguhnya terkuncinya hati-hati mereka seperti tertutup rapatnya (ruangan) yang tidak mengizinkan (sirkulasi) udara dan cahaya. (Fi Zhilal Al-Quran, 6/3297).

SEMAKIN JERNIH HATI, SEMAKIN BESAR PENGARUH TADABBUR BAGI KEIMANAN

Hal yang paling penting dari tadabbur Al-Quran adalah BERTAMBAHNYA KEIMANAN kita kepada Al-Quran dan rukun iman yang lain, dan itu amat terkait dengan kejernihan hati terutama saat melakukan tadabbur.

Tadabbur Al-Quran tidak harus menghasilkan kesimpulan baru atau pelajaran baru dari ayat-ayat yang direnungkan, apalagi sampai harus melahirkan kesimpulan hukum, tentu saja tidak harus demikian, karena yang mampu sampai pada level seperti itu adalah para ulama.

Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang melakukan tadabbur Al-Quran wajib “TAHU DIRI” dengan tidak memaksakan diri dengan tadabburnya untuk sampai pada kesimpulan, pelajaran, apalagi hukum baru yang belum pernah dikenal oleh para ulama tafsir, karena dikhawatirkan apa yang ia hasilkan dari tadabbur yang mengandung unsur “takalluf”(pemaksaan) itu keluar dari kaidah bahasa Arab dan bertentangan dengan syariat Islam.

Asy-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah berkata dalam Risalah Ta’alim:

وَيُفْهَمُ الْقُرْآنُ طِبْقًا لِقَوَاعِدِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلاَ تَعَسُّفٍ

Dan Al-Quran dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab tanpa pemaksaan dan penyimpangan kecendrungan.

Setelah memastikan bahwa ia telah memahami makna ayat dengan benar, yang harus diupayakan dalam tadabburnya adalah menambah keyakinannya kepada kebenaran Al-Quran seperti arahan surat An-Nisa ayat 82 di atas, dan agar Allah subhanahu wata’ala memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang bersih hati sehingga dapat mengamalkannya.

Inilah alasan mengapa tadabbur merupakan kewajiban setiap muslim laki-laki dan perempuan, bahkan diperintahkan juga kepada orang kafir dan munafik untuk melakukannya, karena modal dasarnya adalah memahami arti ayat atau potongan ayat dengan benar kemudian membacanya atau menyimak bacaan orang lain dengan hati yang tidak dikuasai hawa nafsu.

وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى كَوْنِ هَذَا هُوَ الْمُرَادَ بِالتَّدَبُّرِ تَوْجِيْهُ الْخِطَابِ فِي الآيَاتِ الآمِرَةِ بِهِ لِلْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِيْنَ، وَالْمَقْصُوْدُ مِنْ ذَلِكَ اتِّعَاظُهُمْ بِمَا وَرَدَ فِي القُرْآنِ، وَاعْتِبَارُهُمْ الهَادِي إِلَى الإِيْمَانِ وَاتِّبَاعِ الشَّرْعِ. وَهَكَذَا يَكُوْنُ الْمَقْصُوْدُ عِنْدَ تَعْمِيْمِ الأَمْرِ لِيَشْمَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، فَالتَّدَبُّرُ مُتَوَجِّهٌ إِلَى اتِّعَاظِ القَلْبِ وَاعْتِبَارِهِ مِمَّا يُثْمِرُ بَعْدَ ذَلِكَ آثَاراً دَالَّةً عَلَى الخُشُوْعِ: كَوَجَلِ القَلْبِ، وَالبُكَاءِ، وَالخَشْيَةِ، وَزِيَادَةِ الإِيْمَانِ...

Diantara dalil bahwa tujuan tadabbur adalah meraih keimanan:
Bahwa seruan dari ayat-ayat yang memerintahkan mentadabburi Al-Quran ditujukan kepada orang kafir dan munafik dengan maksud agar mereka terpengaruh dengan mauizhah yang ada di dalam Al-Quran, dan agar mereka mendapatkan ibrah yang menunjuki mereka kepada iman dan mengikuti syariat Islam.

Begitu pula tujuan perintah tadabbur yang bersifat umum ini berlaku atas kaum muslimin.

Jadi tadabbur mengarah kepada terpengaruhnya hati dengan mauizhah, dan diraihnya ibrah, yang selanjutnya membuahkan hal-hal yang menunjukkan kekhusyu’an, seperti: hati yang bergetar, menangis, rasa gentar dan bertambahnya iman… (Tahrir Ma’na At-Tadabbur ‘Indal Mufassirin)

Perhatikan firman Allah subhanahu wata’ala tentang para nabi dan orang-orang beriman yang membaca atau dibacakan ayat-ayat yang diturunkan untuk mereka:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal: 2).

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Ya’qub), dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih.

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam: 58)

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ...

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi diulang-ulang (membacanya), gemetar (merinding) karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah… (QS. Az-Zumar: 23)

TADABBUR, SATU CARA MERASAKAN KELEZATAN AL-QURAN

Az-Zakarsyi rahimahullah dalam kitabnya Al-Burhan menyatakan:

مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عِلْمٌ وَفَهْمٌ وَتَقْوَى وَتَدَبُّرٌ، لَمْ يُدْرِكْ مِنْ لَذَّةِ القُرْآنِ شَيْئًا

Barangsiapa tidak memiliki ilmu, pemahaman, taqwa dan tadabbur, tidak akan mendapatkan kelezatan Al-Quran sedikitpun. (Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, 2/155).

Apa yang disebutkan oleh Az-Zarkasyi merupakan perangkat yang lengkap untuk melakukan tadabbur yang menghasilkan kelezatan berinteraksi dengan Al-Quran:

1. ILMU

Yaitu lmu syar’i yang diperlukan untuk tadabbur mendalam terutama yang ilmu yang berkaitan dengan tafsir Al-Quran.

2. PEMAHAMAN

Dengan memahami makna ayat Al-Quran yang akan ditadabburi dengan pemahaman yang benar.

Ini adalah bekal ilmu minimal untuk melakukan tadabbur, jika belum dapat memiliki perangkat ilmu tafsir yang lengkap.

3. TAQWA

Yang sumbernya dari kejernihan hati, iman yang benar terhadap semua rukun iman, dan niat yang ikhlas.

4. TADABBUR

Yaitu aktifitas perenungannya itu sendiri sesuai pengertian yang telah dijelaskan.

Merasakan kelezatan Al-Quran ini akan berdampak pada kekhusyu’an membacanya di dalam atau di luar shalat.

Di dalam shalat sunnah yang ia lakukan sendirian misalnya, seorang mukmin akan betah berlama-lama dengan bacaan Al-Quran setelah membaca surat Al-Fatihah, baik dengan memilih surat yang panjang atau mengulang-ulang membaca ayat atau beberapa ayat, atau membaca doa terkait dengan ayat yang ia baca.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

إِذَا مَرَّ – مُتَدَبِّرُ القُرْآنِ – بِآيَةٍ وَهُوَ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا فِي شِفَاءِ قَلْبِهِ كَرَّرَهَا وَلَوْ مِائَةَ مَرَّةٍ وَلَوْ لَيْلَة، فَقِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَفَكُّرٍ وَتَفَهُّمٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ وَتَفَهُّمٍ، وَأَنْفَعُ لِلْقَلْبِ، وَأَدْعَى إِلَى حُصُولِ الِإيْمَانِ وَذَوْقِ حَلاَوَةِ القُرْآنِ

Jika orang yang sedang bertadabbur melewati sebuah ayat yang ia butuhkan dalam menyembuhkan hatinya, hendaklah ia MENGULANG-ULANG meskipun hingga seratus kali atau sepanjang malam.

Membaca satu ayat dengan tafakkur dan tafahhum lebih baik dari membaca khatam tanpa tadabbur dan tafahhum, lebih bisa bermanfaat bagi hati, dan lebih mampu mencapai iman dan merasakan lezatnya Al-Quran.

(Ibnul Qayyim, Miftah Daris As-Sa’adah, hlm 221).

‘Urwah bin Az-Zubair bin ‘Awwam radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan tentang ibunya, Asma binti Abu Bakar, radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia masuk ke rumah mendapatkan Asma sedang shalat:

فَسَمِعْتُهَا وَهِيَ تَقْرَأُ هَذِهِ الْآيَةَ {فَمَنَّ اللهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ} [الطور: 27] فَاسْتَعَاذَتْ فَقُمْتُ وَهِيَ تَسْتَعِيذُ فَلَمَّا طَالَ عَلَيَّ أَتَيْتُ السُّوقَ ثُمَّ رَجَعْتُ وَهِيَ فِي بُكَائِهَا تَسْتَعِيذُ

Maka aku mendengar ia sedang membaca ayat:

فَمَنَّ اللهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. (QS. Ath-Thur: 27).

Lalu ia berdoa memohon perlindungan (kepada Allah) darinya, lalu aku berdiri dan ia masih memohon perlindungan.

Ketika aku merasakan lama, aku keluar pergi ke pasar kemudian kembali dan ia masih dalam tangisnya memohon perlindungan. (Hilyah Al-Aulia wa Thabaqat Al-Ashfiya, Al-Ashbahani, 2/55).

Tentu saja yang membuat Asma betah berlama-lama dalam tangis dan munajatnya adalah tadabburnya terhadap ayat tersebut yang melahirkan interaksi dalam bentuk doa perlindungan.

Itulah dahsyatnya kelezatan Al-Quran dengan tadabbur.

Kisah yang hampir sama terjadi pada Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ibnu Katsir menyebutkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanadnya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

Bahwa ia membaca ayat ini:

فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. (QS. Ath-Thur: 27-28).

Maka ia (Aisyah) berdoa:

اللَّهُمَّ مُنَّ عَلَيْنَا وَقِنَا عَذَابَ السَّمُومِ، إِنَّكَ أَنْتَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

Ya Allah karuniakan kepada kami dan pelihara kami dari azab neraka, sesungguhnya Engkaulah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.

Al-A’masy, salah seorang perawi kisah ini ditanya:
Di dalam shalat?
Ia menjawab: Ya.

Diriwayatkan juga oleh Abdul Razzaq, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Al-Mundzir, dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman seperti yang disebutkan pada Ad-Durr Al-Mantsur 7/634).

Asy-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah menyebutkan dalam bukunya Nazharat fi Kitabillah:

وذكر أبو بكر أحمد بن علي بن ثابت الحافظ في كتابه المسمى "أسماء من روى عن مالك" عن مرداس بن محمد بن بلال الأشعري قال: حدثنا مالك عن نافع عن ابن عمر قال: تَعَلَّمَ عُمَرُ الْبَقَرَةَ فِى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً، فَلَمَّا خَتَمَهَا نَحَرَ جَزُوْرًا، شُكْرًا للهِ

Dan Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit Al-Hafizh telah menyebutkan dalam kitabnya berjudul “Asma Man Rawaa ‘an Malik” (Nama-Nama Siapa Saja yang Meriwayatkan dari Imam Malik).

Dari Mirdas bin Muhammad bin Bilal Al-Asy’ari ia berkata: Telah berbicara kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar (bin Khatab) ia berkata:

Umar mempelajari surat Al-Baqarah selama dua belas tahun, tatkala selesai, ia pun menyembelih unta sebagai tanda syukur kepada Allah.

(Nazharat Fi Kitabillah, Hasan Al-Banna hlm 157; Lihat juga: Ad-Durr Al-Mantsur, As-Suyuthi, 1/54)

Tentunya dua belas tahun yang dihabiskan oleh Umar untuk mempelajari surat Al-Baqarah saja menunjukkan kedalaman tadabbur yang dilakukan saat membacanya, bukan sekadar membaca untuk khatam.

Dan kebahagiaan mentadabburi surat Al-Baqarah dengan tadabbur ini setelah selesai diungkapkan dengan menyembelih unta sebagai tanda syukur kepada Allah subhanahu wata’ala.

HUBUNGAN TAFSIR DENGAN TADABBUR

Jika tafsir hanya berisi penjelasan tentang makna ayat secara umum, maka tafsir seperti ini merupakan bekal awal untuk melakukan tadabbur.

Tetapi jika tafsir ayat Al-Quran juga berisi makna tersirat dari ayat atau menjelaskan nilai-nilai yang tidak tampak jika hanya melihat terjemahan ayat, apalagi sampai pada istanbath (kesimpulan hukum atau hikmah kehidupan) yang memperkuat iman, maka tafsir seperti ini merupakan hasil dari tadabbur sang penafsir atau ia mengutip hasil tadabbur orang lain.

Dalam hal ini tadabbur adalah bagian dari tafsir.

Sedangkan tafsir yg berasal dari wahyu (tafsir Al-Quran dengan Al-Quran & tafsir Al-Quran dengan Sunnah Rasulullah) atau berasal dari riwayat sahabat Rasulullah yg telah dipastikan merupakan informasi dari Rasulullah, jelas bukan merupakan tadabbur, tetapi ia menjadi penjelasan penting dalam mentadabburi ayat-ayat yang telah dijelaskan oleh wahyu atau riwayat tersebut.

YANG MEMBANTU TADABBUR

Diantara hal penting yang dapat membantu seorang muslim dalam tadabbur:

* Memenuhi semua adab tilawah Al-Quran diantaranya dalam keadaan bersuci, menghadap kiblat, memilih waktu yang tepat, dll.

* Menghadirkan perasaan bahwa ayat Al-Quran sedang berbicara kepadanya, kemudian merenungkan apakah posisinya saat ini sudah sesuai dengan kehendak Al-Quran atau belum.

* Tilawah dengan perlahan dan khusyu’ dan tidak memikirkan harus sampai akhir surat atau akhir juz.
Dalam hal ini hendaknya seorang muslim memiliki waktu khusus untuk tadabbur di luar waktu untuk tilawah dengan target khatam.

* Memikirkan ayat yang sedang dibaca dengan perlahan, menganalisanya berulang sambil memperhatikan korelasi antar ayat sebelum dan sesudahnya.

* Memiliki pemahaman yang baik terhadap dasar-dasar ilmu tafsir

🔹Menelaah pendapat ulama tafsir, terutama saat mereka yang menjelaskan hubungan antar ayat, atau antar surat.

* Memperhatikan tujuan asasi Al-Quran atau syariat secara umum, diantaranya pelurusan aqidah tauhid dan seluruh rukun iman, penegasan kemuliaan manusia dan hak-haknya yang utuh ruhani maupun jasmani khususnya kaum yang lemah,  penegasan wasathiyah (kemoderatan) ajaran Islam, penyucian jiwa dan pelurusan akhlak, keadilan dan kasih sayang, dll.

والله أعلم
loading...
loading...