7 Alasan Mengapa Kita Harus Berdakwah

Oleh: Slamet Setiawan | suksesberkah.com

Semua umat yang akan hancur, hilang dan tidak tersisa bekasnya, pastilah disebabkan kondisi dainya. Para dai dalam umat itu dikekang, sehingga suaranya melemah, misinya kabur, tujuannya hilang, dan warisannya hancur.

Setiap umat yang akan tetap ada, bertahan dan kekal, pastilah selalu berusaha untuk memperbarui dirinya, menghidupkan idealismenya, menyucikan langkah-langkahnya, dan meluruskan hal-hal yang tidak lurus dalam diriya. Umat ini pasti sangat memahami kekurangan dan penyakit yang ada pada dirinya untuk diobati, disembuhkan, dan dikembalikan pada kondisinya yang baik. Umat ini juga akan membentengi dirinya dan memelihara jasadnya dari hal-hal yang bisa menghancurkan dan membinasakannya. Syarat semua itu adalah umat ini harus memiliki undang-undang yang benar dan para dai yang ikhlas, terlatih, memahami, dan meyakini misi serta tujuannya.

Umat Islam adalah umat yang memiliki misi dan melakukan dakwah. Umat ini hadir dengan membawa tujuan, dan ada untuk mencapai tujuannya, Allah berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran 110)

Umat itu dipuimpin dan dipelopori oleh seorang Rasul yang Allah utus menjadi rahmat seluruh alam, dan cahaya bagi orang yang sesat dan kebingungan. Bagi umat ini dakwah bukanlah sesuatu tambahan yang boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan. Dakwah adalah salah satu misi utama umat ini. Dakwaah adalah salah satu pilar membina umat Islam sehingga umat ini menjadi lurus dan suci, selanjutnya menjadi pilar juga dalam memberi petunjuk kepada seluruh alam, menyayangi dan membahagiakan mereka.

Harus diyakini bahwa berdakwah kepada Allah dan amar ma’ruf nahi munkar adalah inti yang paling agung dalam agama ini dan misi kedatangan rasulullah saw. Tanpa dakwah, hilanglah maksud dan tujuan utama misi Rasulullah saw, lalu kerusakan akan menyebar, kesesatan akan meluas. Karena itulah kita dapati Al Qur’an, Sunnah, ijma ulama mewajibkan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar.

Banyak sekali nash Al Qur’an dan sunnah yang memerintahkan amar ma’ruf nahi munkar dan dakwah kepada Allah. Nash-nash itu menyebutkan banyak hal yang menunjukkan bahwa dakwah adalah wajib.

1. Allah mengambil janji setia kepada orang-orang yang mendapat petunjuk untuk menyampaikan dakwah

Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٤)
“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya[1], supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan[2] siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim 4)

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (٤٤)
“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[3] dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl 44)

Namun di antara orang yang telah berjanji itu ada yang lebih memilih kesenangan dunia yang sangat sedikit. Mereka menjual petunjuk Allah dengan dunia. Maka mereka terbuang dari rahmat Allah.

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ (١٨٧) لا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١٨٨)
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu[4] ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (QS. Ali Imran 187-188)

2. Allah memerintahkan orang beriman dengan lugas untuk menyampaikan dakwah

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (٦٧)
“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[5]. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah 67)

Karenananya ketika melaksanakan misinya dan berjanji kepada Allah untuk memperjuangkan dakwah, seorang dai bertanggung jawab atas kesuksesan dakwah ini dikarenakan beberapa hal. Di antaranya karena janji yang sudah diucapkan, dan karena pengetahuannya tentang umat ini yang sedang dalam kondisi terpuruk, mengikuti kebatilan. Oleh karena itu dakwah adalah wajib bagi para ulama dan semua orang yang memahami bahwa umatnya sedang berada dalam kesalahan.

3. Kebenaran harus dipisahkan dari kebatilan

Allah berfirman,

إِذْ أَنْتُمْ بِالْعُدْوَةِ الدُّنْيَا وَهُمْ بِالْعُدْوَةِ الْقُصْوَى وَالرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَوْ تَوَاعَدْتُمْ لاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيعَادِ وَلَكِنْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولا لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ (٤٢)
“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu[6]. Sekiranya kamu Mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan[7], Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)[8]. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui,” (QS. Al Anfal 42)

Oleh karena itu, harus ada para rasul dan para dai. Tugas mereka tidak lain adalah mendatangkan hujjah yang nyata, dan menyebarkan suara yang menyampaikan kebenaran.

4. Menyampaikan dakwah menandakan bahwa seseorang beriman

Allah berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran 110)

Umat Islam saling membantu dalam mencapai tujuan ini (dakwah), seperti yang Allah jelaskan,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٧١)
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah 71)

Oleh karena itu, dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar selamanya menjadi bukti keimanan dan keyakinan orang-orang mukmin yang mengikuti para rasul dan mengemban misinya.

5. Menyampaikan dakwah adalah jihad dan perlindungan dari kehancuran

Selain dengan pedang, panah dan perang, jihad juga bisa dilakukan dengan perkataan. Bahkan terkadang perkataan lebih kuat dan berpengaruh daripada pedang. Jihad dengan pedang juga terbatas hanya dalam memerangi musuh. Sedangkan jihad dengan perkataan bisa dengan musuh dan kawan, di dalam dan di luar negeri, bahkan dapat dilakukan pada setiap tempat dan waktu. Jihad perkataan yang dilakukan kepada orang kafir dan munafik adalah hujjah dan dalil yang kuat. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (٧٣)
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah Jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS. At Taubah 73)

فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (٥٢)
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan Jihad yang besar.” (QS. Al Furqan 52)

Sedangkan untuk mempengaruhi jiwa, jihad dilakukan dengan logika dan penjelasan. Dalam sebuah syair disebutkan:

Wahai orang yang berjihad dengan memerangi musuh-musuh agama Allah
Memohon agar ditolong dan mendapat kemenangan
mengapa engkau tidak menyelami jiwa, memeranginya?
Jiwa itulah musuhmu yang paling besar, jika engkau ingin menang dalam perang
Walaupun engkau sangat letih menghadapi keras kepalanya
Karena sesungguhnya engkau sedang melakukan jihad yang terbesar

Allah berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (٦٩)
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Ankabut 69)

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ (٧٨)
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu[9], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al Hajj 78)

6. Orang yang meninggalkan amar ma’ruf sangat hina dan tidak dikabulkan doanya

Membiarkan kemungkaran terjadi menunjukkan sebuah pribadi yang lemah, hina dan jauh dari istiqamah. Hal itu bisa terjadi karena membiarkan kemungkaran akan menjauhkan dirinya dari fitrah, menghilangkan kehormatannya, dan membuat dirinya tidak bisa berdiri tegak secara terhormat. Oleh karena itu Rasulullah melarangnya. Beliau bersabda,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ زُبَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ أَنْ يَرَى أَمْرَ اللَّهِ فِيهِ مَقَالًا فَلَا يَقُولُ فِيهِ فَيُقَالُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكُونَ قُلْتَ فِي كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَخَافَةُ النَّاسِ فَيَقُولُ إِيَّايَ أَحَقُّ أَنْ تَخَافَ

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Zubaid dari 'Amru bin Murrah dari Abu Al Bakhtari dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jangan sampai salah seorang dari kalian meremehkan dirinya ketika melihat perkara Allah dilecehkan kemudian ia tidak berani mengatakan sesuatu atasnya, maka pada hari kiamat akan dikatakan kepadanya; 'Apa yang menghalangimu untuk mengatakan begini dan begini? ' lalu ia berkata; 'Wahai Rabb, aku takut kepada manusia, ' lalu Allah berfirman: 'Aku lebih berhak untuk ditakuti." (HR. AHMAD - 11274)

7. Orang yang meninggalkan amar ma’ruf dilaknat

Jika kemaksiatan telah diumbar bebas ditengah masyarakat, keburukan telah mendapat posisi yang kuat, dan tidak ada yang melarang dan memberi nasehat, maka hal itu menandakan malapetaka akan datang, dan laknat Allah akan turun.

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَنْبَأَنَا شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ بَذِيمَةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا وَقَعَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ فِي الْمَعَاصِي نَهَتْهُمْ عُلَمَاؤُهُمْ فَلَمْ يَنْتَهُوا فَجَالَسُوهُمْ فِي مَجَالِسِهِمْ قَالَ يَزِيدُ أَحْسِبُهُ قَالَ وَأَسْوَاقِهِمْ وَوَاكَلُوهُمْ وَشَارَبُوهُمْ فَضَرَبَ اللَّهُ قُلُوبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ وَلَعَنَهُمْ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ
{ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ }
وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى تَأْطُرُوهُمْ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا

Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Syarik bin Abdullah dari Ali bin Badzimah dari Abu Ubaidah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ketika bani Isra`il tenggelam dalam kemaksiatan, para ulama mereka melarang mereka namun mereka tidak berhenti, lalu para ulama itu berbaur dengan mereka di majlis-majlis mereka." Yazid berkata; Aku mengira beliau bersabda: "Di pasar-pasar, mereka makan dan minum bersama mereka. Lalu Allah mematikan hati sebagian mereka seperti sebagian yang lain dan melaknat mereka melalui lisan Daud dan Isa bin Maryam: (Hal itu karena perbuatan maksiat mereka dan karena mereka melampaui batas)." Ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersandar lalu beliau duduk seraya bersabda: "Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, hingga kalian mengembalikan mereka kepada kebenaran." (HR. AHMAD - 3529)

Laknat Allah itu tidak hanya diturunkan kepada orang-orang yang berbuat maksiat saja, akan tetapi kepada semua orang. Karena mereka diam saja, tetap bergaul dengan mereka, tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu mereka mendapat laknat dari Allah, bahkan para nabi pun turut melaknat mereka. Wallahu a’lam.

[Ditulis di Desa Labuhan Ratu Baru, Sabtu malam, 5 November 2016 pukul 22.43 WIB setelah menikmati makan malam dan segelas Health Coffee buatan sang dinda.;-)]

Catatan kaki:
[1] Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab itu, bukanlah berarti bahwa Al Qu'an untuk bangsa Arab saja tetapi untuk seluruh manusia.
[2] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi sesat.
[3] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.
[4] Di antara keterangan yang disembunyikan itu ialah tentang kedatangan Nabi Muhammad saw.
[5] Maksudnya: tak seorangpun yang dapat membunuh Nabi Muhammad s.a.w.
[6] Maksudnya: kaum muslimin waktu itu berada di pinggir lembah yang dekat ke Madinah, dan orang-orang kafir berada di pinggir lembah yang jauh dari Madinah. sedang kafilah yang dipimpin oleh Abu Sofyan itu berada di tepi pantai kira-kira 5 mil dari Badar.
[7] Maksudnya: kemenangan kaum muslimin dan kehancuran kaum musyrikin.
[8] Maksudnya: agar orang-orang yang tetap di dalam kekafirannya tidak mempunyai alasan lagi untuk tetap dalam kekafiran itu, dan orang-orang yang benar keimanannya adalah berdasarkan kepada bukti-bukti yang nyata.
[9] Maksudnya: dalam Kitab-Kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Referensi:
Kitab Ad Da’wah Ilallah, Prof. Dr. Taufiq Yusuf Al Wa’iy
Ensiklopedia Hadits 9 Imam, Lidwa Pustaka (software)
loading...
loading...