Shalat Sunnah Setelah Subuh, Orang Tua Tidak Adil, dan Makna Musibah Bagi Manusia

1. Assalamu'alaykum mau tanya. Apakah blh shalat hajat/shalat taubat ba'da shubuh?

2, Assalamu'alaikum?
Bagaimana sikap kita terhadap orang tua yg tak adil kepada anak anaknya?

3. Assalamualaikum,ketika tidak melaksanakan shalat, ada hal2 buruk yg terjadi,apakah itu sebuah peringatan/balasan/hanya kebetulan saja, mohon penjelasannya

Jawaban:

1. Mengerjakan shalat setelah mengerjakan shalat Subuh dan Ashar, jika tidak ada sebab makruh hukumnya. Dasarnya adalah sabda Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. Katanya, “Saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Tidak ada shalat setelah Subuh sampai matahari meninggi, dan tidak ada shalat setelah Ashar sampai matahari menghilang."

Dalam keterangan hadits di atas sudah jelas larangan shalat setelah shalat subuh dan asar, termasuk di dalamnya shalat hajat dan taubat. Akan tetapi ada riwayat lain yang membolehkan shalat setelah subuh dan asar.


عَنْ جَابِرِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ بِمِنًى فَانْحَرَفَ فَرَأَى رَجُلَيْنِ وَرَاءَ النَّاسِ فَدَعَا بِهِمَا فَجِيءَ بِهِمَا تَرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا فَقَالَ مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَ النَّاسِ فَقَالَا قَدْ كُنَّا صَلَّيْنَا فِي الرِّحَالِ قَالَ فَلَا تَفْعَلَا إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فِي رَحْلِهِ ثُمَّ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ مَعَ الْإِمَامِ فَلْيُصَلِّهَا مَعَهُ فَإِنَّهَا لَهُ نَافِلَةٌ


Dari Jabir bin Yazid bin Al Aswad dari Bapaknya ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat fajar di Mina. Maka ketika beliau berpaling, beliau melihat dua orang laki-laki di belakang (tidak shalat). Beliau kemudian memanggil keduanya, hingga kedua laki-laki itu dibawa ke hadapan Rasulullah dalam keadaan gemetar. Beliau lalu bertanya: "Apa yang menghalangi kalian berdua untuk tidak shalat bersama jama'ah?" kedua laki-laki itu menjawab: "Kami telah menunaikan shalat di perjalanan." Beliau bersabda: "Janganlah kalian berbuat seperti itu. Jika salah seorang dari kalian telah menunaikan shalat di perjalanannya lalu mendapati jama'ah yang sedang shalat bersama imam, maka hendaklah ia turut menunaikan shalat, karena shalat itu baginya adalah nafilah." (H.R. Ahmad).

Catatan: Shalat yang dimaksud dalam hadits Ahmad tersebut adalah kebolehan melakukan shalat wajib 5 waktu dua kali. Dimana yang kedua bernilai nafilah atau tambahan.

***

2. Sebelum membahas bagaimana sikap kita terhadap orang tua yang tidak adil, saya akan menjelaskan terlebih dahulu pengertian adil. Agar kita tidak terjebak pada pemahaman yang keliru.

Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya sesuai porsinya. Lawan dari adil adalah zalim. Misalnya saya punya 2 anak, yang besar berusia 15 tahun dan yang kecil berusia 7 tahun. Sikap adil saya memberi uang jajan adalah yang besar saya beri 20 ribu dan yang kecil 5 ribu. Kenapa? Karena yang besar kebutuhannya besar, dia perlu ongkos ke swkolah dan seterusnya. Sedangkan yang kecil kebutuhannya hanya sedikit karena tidak membutuhkan ongkos ke sekolah dan lainnya.

Lalu bagaimana jika orang tua memang benar tidak adil terhadap anak-anaknya?

Pertama, kenali latar belakang orang tua kita, sehingga kita mampu memahami apa yang menyebabkan mereka berbuat demikian terhadap kita.

Kedua, terus tunjukjan prestasi dan akhlak yang baik, dengan demikian mudah-mudahan orang tua kita akan lebih perhatian jika anaknya berakhlak mulia, shaleh/ah dan berprestasi.

Ketiga, doakan mereka dan selalu baktikan diri pada mereka. Karena kebaikan mereka kepada kita tetap tak terhingga nilainya, sehingga rasulullah mengabarkan surga bagi seorang laki-laki yang berbakti pada ibunya.

***

3. Musibah adalah sunnah-Nya. Segala yang diperbuat-Nya selalu mengandung hikmah yang agung. Lalu, untuk tujuan apakah Dia mendatangkan musibah kepada manusia?

Pertama: Sebagai hukuman bagi orang-orang yang mansekutukan-Nya dan kufur kepada-Nya.

Allah akan menurunkan musibah kepada orang-orang yang ingkar, kufur dan menyekutukan-Nya, sebagai hukuman dan azab atas perbuatan mereka yang sangat buruk. Kekufuran dan syirik adalah dosa yang paling besar. Orang-orang yang memperbuatnya memang pantas mendapat hukuman dari Allah, apabila mereka telah mendapatkan peringatan dari para utusan-Nya.

Dalam sejarah manusia, musibah dan azab pernah turun kepada kaum-kaum terdahulu. Kaum Nabi Nuh Allah tenggelamkan dalam musibah banjir bandang. Kaum Nabi Hud, Shaleh dan Syu’ab Allah tiupkan angin yang membinasakan kepada mereka. Fir’aun dan bala tentaranya juga Allah tenggelamkan ke dalam samudera. Kaum Nabi Luth Allah balikkan tanah mereka lalu Allah hujani mereka dengan baru-baru kerikil yang panas. Kisah-kisah mereka Allah ceritakan dalam Al Qur`an agar menjadi pelajaran bagi manusia yang datang setelah mereka.

Allah berfirman,

وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

“dan siksaan itu Tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Huud: 83)

Kedua: Sebagai hukuman atas dosa-dosa dibawah syirik dan kekufuran, untuk mensucikan hamba-hamba-Nya.

Diantara sebab datangnya musibah yang menimpa manusia di dunia baik pada diri, keluarga atau harta mereka adalah karena perbuatan dosa dan maksiat yang mereka kerjakan, juga sebagai hukuman dari Allah atas mereka. Allah berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuuraa: 30)

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari dirimu sendiri.” (QS. An Nisaa`: 79) Ibnu Katsir berkata, “Maksud ‘dari dirimu’ adalah dengan sebab dosamu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah, sungguh Allah akan menghalangi rizki seorang hamba disebabkan dosa yang dikerjakannya.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, Hakim: Shahih Isnad)

Jika Allah menghendaki kebaikan atas hamba-Nya, Allah akan menyegerakan akibat dari kesalahan yang diperbuatnya di dunia dan tidak menangguhkannya di akhirat. Hingga ia bertemu dengan Allah di akhirat nanti dalam keadaan bersih dari kesalahan.

Dengan demikian, jika musibah datang menyapa kita, segeralah melakukan evaluasi diri dan bertobat kepada-Nya.

Ketiga: Untuk meninggikan derajat hamba-hamba-Nya

Allah menguji manusia dengan musibah dan nikmat, agar menjadi jelas kesyukuran orang yang beriman dan kesabarannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak Allah menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin melainkan menjadi kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya. Begitu pun jika ia ditimpa dengan musibah, maka ia bersabar dan itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Dari sisi ini musibah menjadi cara Allah untuk meninggikan derajat seorang hamba, meluhurkan keutamaannya dan menambah pahalanya.

Keempat: Untuk membedakan orang yang jujur dan orang yang dusta dalam pengakuan imannya

Dunia adalah tempat ujian. Ujian datang diantaranya dalam bentuk musibah yang tidak diinginkan kehadirannya. Orang-orang yang mengaku beriman akan Allah uji, sejauh mana kebenaran dan kejujuran pengakuannya sebagai orang yang beriman. Allah berfiman,

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut: 1- 3)

Setiap orang yang mengatakan, “Aku beriman” akan diuji oleh Allah. Jika ia bersabar dan teguh, maka ia berarti jujur dalam imannya. Namun jika ia menyimpang dan berpaling dari agamanya tatkala mendapat ujian, maka ia berarti dusta dalam pengakuannya.

Kelima: Untuk membuat hamba-hamba-Nya berserah diri, mengadu dan berdoa kepada-Nya

Seorang mukmin, jika ia mendapat musibah, ia akan segera mengadu, tunduk, berserah diri dan berdoa kepada Allah. Ia juga akan memperbanyak ibadah, bersedekah dan shalat karena ia menyadari bahwa Allah-lah satu-satunya yang berkuasa mengangkat musibah itu dan menolong orang-orang yang kesusahan jika mereka memohon kepadanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Diantara hikmah ujian (yang Allah timpakan kepada orang beriman) adalah membuat mereka kian tunduk dan merendahkan diri kepada Allah, merasa butuh dan memohon pertolongan kepada-Nya.”

Dengan demikian, musibah bagi orang yang beriman juga bertujuan menjaga keimanan mereka dan kelurusan jalan hidup yang ditempuhnya. Andai mereka terus-menerus diberikan kesenangan, kemenangan dan kemudahan hidup, bisa jadi mereka menjadi lalai dan lupa kepada Allah dan agamanya.

Keenam: Mengingatkan hamba-Nya kepada akhirat

Sebagaimana yang telah dikatakan diatas, musibah adalah sunnatullah di dunia ini. Dunia bukan tempat kenikmatan. Mencari kesenangan dan kenikmatan selama-lamanya dan terus-menerus tidak mungkin akan didapatkan di dunia ini. Di dunia ini bercampur antara nikmat dan bencana, antara kemudahan dan kesusahan, antara kesenangan dan kesedihan. Jika begitu hakikat dari kehidupan dunia, maka musibah yang datang kepada seorang hamba sejatinya dapat mengingatkannya ke negeri akhirat, tempat cita-cita untuk meraih segala kenikmatan dapat ditambatkan.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al Balad: 4)

Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya, susah payah dalam menghadapi musibah-musibah di dunia, dan kesulitan-kesulitan di akhirat.”

Wallahu a'lam.

Slamet Setiawan
loading...
loading...