Surat Al Kautsar: Shalat dan Qurban Tanda Syukur

Oleh: Slamet Setiawan | suksesberkah.com

Bunyi Surat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١)
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢)
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ (٣)

Surat Al Kautsar adalah surat yang ke 108, ada perbedaan pendapat mengenai status surat ini apakah Makkiyah atau Madaniyah. Ibnu Katsir mengatakan dalam Tafsir Al Qur’an Al Azhim 14: 476 bahwa kebanyakan ahli qiraah berpendapat Al Kautsar adalah surat Madaniyah.

Namun Ibnu Al Jauzi mengatakan bahwa mayoritas ulama termasuk Ibnu Abbas berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah. (Zaadul Masiir, 9: 247)

Ibnu Jauzi merinci ada enam pendapat mengenai makna Al Kautsar:
1. Al Kautsar adalah sungai di surga.
2. Al Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan kepada Rasulullah saw. Demikian pendapat Ibnu Abbas.
3. Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian pendapat Hasan Al Basri.
4. Al Kautsar adalah nubuwah (kenabian), demikian pendapat Ikrimah.
5. Al Kautsar adalah telaga Rasulullah saw yang banyak manusia mendatanginya. Demikian kata Atho’
6. Al Kautsar adalah begitu banyak pengikut dan umat. Demikian kata Abu Bakr bin Iyasy. (lihat Zaadul Masiir, 9: 247-249)

Asbabun Nuzul

Ada beberapa pendapat mengenai turunnya surat Al-Kausar . Hingga sebagian ulama berbeda pendapat tentang  daerah turunnya ayat tersebut, ada yang mengatakan Makkiyah ada pula yang mengatakan Madaniyah.

Pendapat yang mengatakan bahwa surat Al Kautsar termasuk dari Makkiyah berlandaskan pada hadist Nabi Muhammad saw.

“Imam At Thasti meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nafi Ibnu Al Azraq bertanya kepada Ibnu Abbas, “jelaskan kepadaku mengenai Al Kaustar dalam ayat إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ?”

“Al Kautsar adalah telaga yang berada ditengah-tengah surga yang dikelilingi oleh mutiara dan permata, serta dilengkapi para bidadari yang cantik menawan dan pembantu yang melayani kebutuhannya”. Jelas Ibnu Abbas.

Lalu apa penyebab turunnya ayat ini?” lanjut Nafi Ibnu Al Azraq.

Lantas Ibnu Abbas menjawab,

“Saat itu Rasulullah saw masuk ke Masjidil Haram melalui pintu shafa kemudian keluar melalui pintu marwah, lalu beliau bertemu dengan Ash Bin Wail As Sahmiy maka Al Ash menemui Quraisy dan mereka bertanya, “siapa yang kamu temui barusan Wahai Abu Amr?” lalu Al Ash menjawab, “dia adalah Al-Abtar yaitu Nabi Muhammad saw. Ketika itulah Allah swt menurunkan surat Al Kautsar.

Hadist diatas mengindikasikan bahwasanya surat ini turun di Mekkah sebelum hijrah (Makkiyah), sependapat dengan Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan Aisyah. Penpat ini dikategorikan populer dikalangan Mufassirin dan para ahli sejarah.

Pendapat yang kedua menyatakan bahwa surat Al Kautsar termasuk Madaniyah dengan bertendesi Hadits berikut, “diriwayatkan  dari sahabat Anas ketika Rasulullah saw bersama kami tiba-tiba beliau tertidur sebentar kemudian beliau mengangkat kepalanya sambill tersenyum kemudian beliau bersabda “ telah diturunkan kepadaku barusan satu surat, beliau membaca surat Al Kautsar." Hadits ini diriwatkan oleh Imam Muslim Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Daud, Nasi’i, Ibnu Jarir, Ibnu Mundir, Ibnu Mawardi dan Al-Baihaqi.

Tafsir Ayat

Ayat 1-3:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, dari Al-Mukhtar ibnu Fulful, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah saw menundukkan kepalanya sejenak, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya tersenyum.

Beliau bersabda kepada mereka, atau mereka bertanya kepada beliau saw, "Mengapa engkau tersenyum?" Maka Rasulullah saw menjawab, "Sesungguhnya barusan telah diturunkan kepadaku suatu surat." Lalu beliau membaca firman-Nya: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. (Al-Kautsar: 1), hingga akhir surat. Lalu Rasulullah saw bersabda, "Tahukan kalian, apakah Al-Kautsar itu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah bersabda:

«هُوَ نَهْرٌ أَعْطَانِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فِي الْجَنَّةِ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ، تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدَ الْكَوَاكِبِ يُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي، فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ»

Al-Kautsar adalah sebuah sungai (telaga) yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga, padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat; jumlah wadah-wadah (bejana-bejana)nya sama dengan bilangan bintang-bintang. Diusir darinya seseorang hamba, maka aku berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari umatku.” Maka dikatakan, "Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat-buatnya sesudahmu."

Adapun mengenai firman-Nya:

{إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ}

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. (Al-Kautsar: 1)

Dalam hadist di atas telah disebutkan bahwa Al Kautsar adalah nama sebuah sungai di dalam surga.

Firman Allah swt:

{فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ}

Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (Al-Kautsar: 2)

Yakni sebagaimana Kami telah memberimu kebaikan yang banyak di duni adan akhirat, antara lain ialah sebuah sungai yang sifat-sifatnya telah disebutkan di atas; maka kerjakanlah shalat fardhu dan salat sunnahmu dengan ikhlas karena Allah swt dan juga dalam semua gerakmu. Sembahlah Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan sembelihlah kurbanmu dengan menyebut nama-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Hal yang senada disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيايَ وَمَماتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku. hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”(Al-An'am: 162-163)

Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Ikrimah, dan Al-Hasan telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wanhar ialah menyembelih unta dan ternak lainnya sebagai korban. Hal yang semisal telah dikatakan oleh Qatadah, Muhammad ibnu Ka'b Al Qurazi, Ad Dahhak, Ar Rabi', Atha’, Al Khurrasani, Al Hakam, Sa'id ibnu Abu Khalid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.

Hal ini berbeda keadaannya dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang menyebut nama-Nya, Allah swt telah berfirman:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (Al-An'am: 121), sampai akhir ayat.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan wanhar ialah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah tenggorokan. Hal ini diriwayatkan dari Ali, tetapi sanadnya tidak sahih. Dan hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abu Ja'far Al-Baqir.

Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa wanhar artinya mengangkat kedua tangan di saat membuka shalat. Dan menurut pendapat yang lainnya lagi, wanhar artinya hadapkanlah lehermu ke arah kiblat. Ketiga pendapat ini disebutkan oleh Ibnu Jarir.

Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dari ayat ialah jadikanlah shalatmu semuanya tulus ikhlas hanya untuk Tuhanmu, bukan untuk berhala atau sembahan selain-Nya. Demikian pula kurbanmu, jadikanlah hanya untuk Dia, bukan untuk berhala-berhala. sebagai ungkapan rasa syukurmu terhadap-Nya atas kemuliaan dan kebaikan tiada taranya yang dikhususkan-Nya buatmu sebagai anugerah dari-Nya. Pendapat yang dikemukakan oieh orang yang mengatakan ini amatlah baik. Dan pendapat ini telah dikatakan sebelumnya oleh Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi dan Ata dengan ungkapan yang semakna.

Firman Allah swt:

{إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ}

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3)

Yakni sesungguhnya orang yang membencimu, hai Muhammad, dan benci kepada petunjuk, kebenaran, bukti yang jelas, dan cahaya terang yang kamu sampaikan; dialah yang terputus lagi terhina, direndahkan dan terputus sebutannya.

Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, dan Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Ash ibnu Wa-il.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari yazid ibnu Ruman yang mengatakan bahwa dahulu Al-Ash ibnu Wa-il apabila disebutkan nama Rasulullah saw, ia mengatakan, "Biarkanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang terputus, tidak mempunyai keturunan. Apabila dia mati, maka terputuslah sebutannya." Maka Allah menurunkan surat ini.

Syamir ibnu Atiyyah mengatakan bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan Uqbah ibnu Abu Mu'it. Ibnu Abbas mengatakan pula, dan juga ikrimah, bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan Ka'b ibnul Asyraf dan sejumlah orang-orang kafir Quraisy.

ikrimah mengatakan bahwa al-abtar artinya sebatang kara. As-Saddi mengatakan bahwa dahulu mereka apabila meninggal dunia keturunannya laki-laki mereka, maka mereka mengatakannya abtar (terputus keturunannya). Dan ketika putra-putra Nabi saw semuanya meninggal dunia, maka mereka mengatakan, "Muhammad telah terputus." Maka Allah swt menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3)

Pendapat ini senada dengan apa yang telah kami sebutkan di atas yang mengatakan bahwa abtar ialah orang yang tidak mempunyai keturunan laki-laki. Maka orang-orang kafir Quraisy itu mengira bahwa seseorang itu apabila anak-anak lelakinya mati, maka terputuslah sebutannya.

Padalah tidaklah demikianlah kenyataannya, bahkan sebenarnya Allah mengekalkan sebutan Nabi saw di hadapan para saksi dan mewajibkan syariat yang dibawanya di atas pundak hamba-hamba-Nya, yang akan terus berlangsung selamanya sampai hari mereka dihimpunkan untuk mendapat pembalasan. Semoga shalawat dan salam-Nya terlimpah-kan kepadanya selama-lamanya sampai hari kiamat.

Pelajaran:

1. Nikmat Allah swt yang sangat melimpah kepada kita hendaknya dibalas dengan syukur, yaitu dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah swt dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

2. Mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk Allah swt semata.

3. Siapa yang membenci Rasulullah saw, merekalah yang terputus (abtar).

4. Rasulullah saw mendapat keistimewaan dari Allah swt dengan dikaruniai Al Kautsar (sungai di surga) untuk umatnya. Wallahu a’lam.

***

Labuhan Ratu Baru, 2 November 2016 - 22.31 WIB
Dalam sunyinya malam, saat gemuruh kekuatan Al Maidah: 51 mengguncang bumi.

Referensi:
Tafsir Al Qur’an Al Azhim, Ibnu Katsir
Tafsir Al Muyassar, Mujamma’ Raja Fahd
Zaadul Masiir, Ibnu Al Jauzi
Ensiklopedia Hadits 9 Imam, Pustaka Lidwa
loading...
loading...