Kontroversi Syaikh Sudais dan Peringatan Ketegaran Iman





Oleh: Slamet Setiawan

Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan dengan pernyataan imam besar sekaligus ketua pengurus Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syaikh Abdurrahman As Sudais. Dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi Saudi Al Ekhbariya, beliau menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Saudi Arabia mengarahkan dunia menuju perdamaian.

Padahal kita tahu bersama bahwa Amerika Serikat menjadi aktor kekacauan di Afganistan, Yaman, Irak, Somalia dan Suriah. Sontak pernyataan kontroversial tersebut mengundang hujatan dari banyak pihak. Saya yakin saat ini beliau sedang mengalami tekanan yang luar biasa atas sikapnya tersebut. Para ulama, teruama yang berasal dari negara-negara di atas pasti kecewa dan mengecam beliau.. Dan saya yakin Syaikh Sudais melakukan hal tersebut karena adanya tekanan dari penguasa. Karena selama ini beliau dikenal sebagai pribadi yang terbuka, tidak kaku dengan satu madzhab dan berwawasan luas. Terbukti ketika berkunjung ke Indonesia beliau mrnjaharkan basmalah dan mengangkat tangan saat qunut subuh.

Beliau juga pasti paham jika mengatakan hal yang tidak disukai penguasa akan bernasib sama seperti imam besar Masjidil Haram Syaikh Al Muhaisany yang ditangkap pada 2002 lalu setelah mengimami shalat terawih di Masjidil Haram dan membaca qunut mendoakan kehancuran Amerika Serikat. Kita husnudhan saja Syaikh Sudais melakukan hal itu karena bertaqiyah untuk "cari aman".

Dari peristiwa ini saya pribadi mengingatkan diri sendiri akan sabda nabi SAW:

أحب الجهاد إلى الله كلمة حق تقال لإمام جائر

“Jihad yang paling disukai oleh Allah adalah mengatakan kebenaran di hadapan pemimpin yang zalim” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari hadits ini saya jadi teringat Imam Ahmad bin Hambal yang tetap teguh mempertahankan aqidahnya bahwa Al Quran bukan makhluk. Walaupun kala itu beliau harus membayarnya dengan penyiksaan yang berat oleh penguasa.

Mari kita renungkan mampukah kita setegar Imam Ahmad? Atau sekuat Sayyid Qutb dalam menjaga kebenaran agama ini? Walaupun Islam mengizinkan bertaqiyah di saat terpaksa, namun keterus terangan adalah lebih utama.

Semoga kita mampu menjawab seperti Imam Ahmad ketika kawan-kawannya yang kasihan melihatnya disiksa untuk bertaqiyah saja. Dengan mantap beliau menjawab:

"Bagaimana sikap kalian dengan hadits Khabab Radhiyallahu ‘anhu :

إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانَ يُنْشَرُ أَحَدُهُمْ بِالْمِنْشَارِ، لَا يَصُدُّهُ ذَالِكَ عَنْ دِيْنِهِ

‘Sesungguhnya orang sebelum kalian ada yang digorok dengan gergaji, tetapi itu tidak memalingkannya dari diennya.’
Pantaskah bila kita akan putus asa?”

(Siyarul A’lam An Nubala’,Imam Adz Dzahaby 11/ 239)

Semoga Allah kokohkan iman kita agar tetap lurus dalam kebenaran. Wallahu a'lam.
loading...
loading...