Sense of Belonging dan Kualitas Iman Kita


Oleh: Slamet Setiawan, SHI

Ada hal sepele yang berdampak sangat luar biasa namun tidak disadari banyak orang, baik itu orang kantoran, guru, murid, pejabat atau rakyat dalam lingkup negara sekalipun. Rasa itu adalah sense of belonging (rasa memiliki).

Kenapa saya katakan penting? Seorang karyawan yang memiliki sense of belonging akan bekerja dengan totalitas, sepenuh hati dan punya energi besar untuk memajukan perusahaannya. Karena baginya perusahaan tersebut adalah bagian dari dirinya. Korupsi tak akan terjadi jika sang karyawan merasa memiliki dan merasa harus menjaga perusahaan tempatnya bekerja tetap stabil. Seorang guru akan mendedikasikan dirinya secara maksimal mendidik siswanya dengan adanya sense of belongng. Bahkan seorang santripun jika memiliki sense of belonging akan berdampak besar pada banyak aspek, misalnya pada penghematan biaya operasional.

Kenapa bisa begitu? Ya, di lingkungan pesantren atau asrama, salah satu masalah besar yang dihadapi asatidzahnya adalah masalah sarana yang umurnya tidak pernah lama. Conoh kecil di asrama kami adalah sapu lantai yang rata-rata hanya berumur satu bulan. Padahal normalnya di rumah kita bisa satu tahun lebih. Jangankan sapu, pintu kamar mandi yang dibuat dari plat baja pun bisa sempal juga. Dan lain-lain. Ini PR buat kita semua, para asatidzah dan juga orang tua untuk menanamkan sense of belonging. Di lingkup yang lebih besar, presiden berkewajiban menanamkan rasa ini (sense of belonging) kepada jajarannya agar tidak ada lagi korupsi. Besar sekali dampaknya kan?

Sense of belonging, selain berdampak pada etos kerja karyawan, penghematan anggaran pesantren dan mencegah perilaku korupsi dan seterusnya, juga berbanding lurus dengan keimanan. Siapa yang sense of belonging-nya lemah maka imannya pun lemah. Sebab semua yang dititipkan Allah swt kepada kita adalah amanah yang harus dijunjung tinggi.

Kanjeng Nabi SAW bersabda:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا أَبُو هِلَالٍ الرَّاسِبِيُّ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
قَلَّمَا خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا قَالَ لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَه

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Abu Hilal Ar-Rasibi dari Qatadah dari Anas berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam sangat jarang menyampaikan kepada kami kecuali perkataan 'tidak ada iman bagi orang yang tidak menunaikan amanah, dan tidak ada agama bagi yang tidak menepati janji. (HR. Ahmad - 12108)

Hal ini membuktikan bahwa Islam bersifat syumul (sempurna) yang mampu mengatur semua aspek kehidupan kita, baik yang berdampak pada keduniaan kita maupun yang berdampak pada akhirat kita.

Coretan ini adalah pengingat buat saya pribadi, dan mudah-mudahan juga bermanfaat untuk anda semua. Wallahu a'lam.
loading...
loading...