Arisan Dalam Pandangan Islam


Oleh: Slamet Setiawan

Beberapa hari yang lalu beredar video di beranda facebook saya yang menjelaskan bahwa arisan di haramkan dalam syariat karena berpeluang membuka pintu hutang. Memang tidak sepenuhnya salah juga perspektif seperti itu, dan secara rasional memang status orang yang mendapat undian pertama mempunyai tanggungan untuk melunasi kewajibannya setiap kali periode undian tiba. Disini saya tidaak akan mendebat ustadz tersebut, namun saya akan membahas dengan perspektif berbeda. Karena suatu persoalan akan berbeda simpulannya jika dipandang dari sudut yang berbeda pula.

Arisan adalah perkara muamalat yang kontemporer, artinya belum terjadi di masa Nabi saw, jadi kita tidak akan menemukan dalil mengenai hal ini, baik di Al Quran maupun sunnah. Selanjutnya ulama bersepakat bahwa hukumnya dikembalikan pada hukum asal muamalat, yaitu dibolehkan. Para ulama mengemukakan hal tersebut dalam kaidah fiqih yang berbunyi,

اْلأَصْلُ فِي الشُّرُوْطِ فِي الْمُعَامَلاَتِ الْحِلُّ وَالْإِبَاحَةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ

“Hukum asal menetapkan syarat dalam muamalat adalah halal dan diperbolehkan
kecuali ada dalil (yang melarangnya).”

Jika sang ustadz dalam video tersebut memandang arisan dari perspektif membuka peluang hutang yang endingnya jadi tidak disarankan, akan berbeda menjadi dianjurkan jika saya ubah menjadi ta’awun atau saling tolong-menolong antar sesama anggorta arisan. Misal arisan qurban atau aqiqah karena dapat dicapai dengan cara arisan, seseorang yang secara langsung belum mempunyi biaya untuk berqurban atau aqiqah dapat membayarnya secara berangsur.

Allah swt berfirman:

وتعاونوا على البر والتقوى

“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa.” (QS. Al Maidah: 2)

Selanjutnya dalam hal undian, Rasulullah pernah mengundi istri-istrinya yang akan diajak safar.

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي نُعَيْمٍ قَالَ عَبْدٌ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَطَارَتْ الْقُرْعَةُ عَلَى عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ فَخَرَجَتَا مَعَهُ جَمِيعًا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ بِاللَّيْلِ سَارَ مَعَ عَائِشَةَ يَتَحَدَّثُ مَعَهَا فَقَالَتْ حَفْصَةُ لِعَائِشَةَ أَلَا تَرْكَبِينَ اللَّيْلَةَ بَعِيرِي وَأَرْكَبُ بَعِيرَكِ فَتَنْظُرِينَ وَأَنْظُرُ قَالَتْ بَلَى فَرَكِبَتْ عَائِشَةُ عَلَى بَعِيرِ حَفْصَةَ وَرَكِبَتْ حَفْصَةُ عَلَى بَعِيرِ عَائِشَةَ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جَمَلِ عَائِشَةَ وَعَلَيْهِ حَفْصَةُ فَسَلَّمَ ثُمَّ سَارَ مَعَهَا حَتَّى نَزَلُوا فَافْتَقَدَتْهُ عَائِشَةُ فَغَارَتْ فَلَمَّا نَزَلُوا جَعَلَتْ تَجْعَلُ رِجْلَهَا بَيْنَ الْإِذْخِرِ وَتَقُولُ يَا رَبِّ سَلِّطْ عَلَيَّ عَقْرَبًا أَوْ حَيَّةً تَلْدَغُنِي رَسُولُكَ وَلَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقُولَ لَهُ شَيْئًا

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali; Dan telah menceritakan kepada kami 'Abad bin Humaid seluruhnya dari Abu Nu'aim berkata; 'Abad Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim; Telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahid bin Aiman; Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah dari Al Qasim bin Muhammad dari 'Aisyah dia berkata; "Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hendak bepergian, maka beliau pun mengundi para isterinya. Pada suatu ketika, undian tersebut jatuh kepada Aisyah dan Hafshah. Akhirnya kami pun bertiga pergi bersama-sama. Ketika malam tiba, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasanya menempuh perjalanan bersama Aisyah sambil berbincang-bincang dengannya. Hingga suatu saat Hafshah berkata kepada Aisyah; 'Hai Aisyah, bagaimana jika malam ini kamu mengendarai untaku dan aku mengendarai untamu. Setelah itu, kita akan memperhatikan apa yang akan terjadi nanti.' Aisyah menjawab; "Baiklah!" Lalu Aisyah mengendarai unta milik Hafshah dan Hafshah sendiri mengendarai unta milik Aisyah. Tak lama kemudian Rasulullah mendatangi unta milik Aisyah yang kini dikendarai Hafshah. Rasulullah mengucapkan salam kepadanya dan menempuh perjalanan bersamanya hingga mereka singgah di suatu tempat. Sementara itu, Aisyah merasa kehilangan Rasulullah hingga ia merasa cemburu. Oleh karena itu, ketika mereka singgah di suatu tempat, maka Aisyah menjulurkan kedua kakinya di antara pohon idzkhir sambil berkata; Ya Allah perintahkanlah kalajengking atau ular untuk menggigitku, karena aku tidak kuasa untuk mengatakan sesuatu kepada Rasul-Mu.' (Shahih Muslim - 2445)

Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pelaku arisan. Pertama karena dalam arisan (terutam yang mendapat undian lebih dulu) merupakan akad pinjam-meminjam atau lebih tepatnya akad al qardh. Oleh karena itu semua pihak yang ikut serta harus komitmen menyelesaikan kewajibannya.

Kedua, harus ada seseorang atau pihak yang menjamin terselenggaranya arisan tersebut secara baik, agar tidak terjadi sesuatu yang dapat merugikan anggota arisan.

Ketiga, Setiap anggota arisan harus mendapatkan bagian dengan nilai yang sama, jadi tidak ada pihak yang dirugikan. Dalam hal ini saya lebih sepakat jika arisan diukur dengan nilai sebuah benda. Misal dengan semen, beras, emas, kambing dll. Karena jika diukur dengan nilai mata uang maka kursnya bisa naik-turun. Uang seratus ribu hari ini tentu berbeda nilainya dengan setahun atau dua tahun kedepan. Hal ini berpotensi merugikan pihak yang mendapat bagian pada saat kurs nilai mata uang merosot. Maka arisan hewan qurban lebih dianjurkan daripada arisan mata uang.

Keempat, Masing-masing anggota arisan harus komitmen menjaga amanahnya. Supaya harta yang diperoleh dalam arisan barakah dan silaturahim terjaga dengan baik.

Demikian penjelasan seputar arisan. Wallahu a’lam.
loading...
loading...