Popularitas, Kawan atau Lawan?


Salah satu penyakit bagi para aktivis dakwah adalah mencintai popularitas. Sebagai tanda berkurangnya keikhlasan. Ingin tampil dan terkenal. Bersemangat jika mendapat amanah yang membuat dirinya bisa terlihat dan dikenal oleh khalayak, tetapi enggan jika ditempatkan sebagai pendukung di belakang layar saja.

Dalam sebuah bangunan amal jama'i tentu kita membutuhkan banyak orang yang siap ditempatkan di berbagai pos, dengan menimbang kecakapan dari setiap kader. Dan, bagi pemimpin disinilah seni mengorganisasi dengan efektif. Memahami kapasitas dan kecenderungan (passion) dari setiap anggotanya agar kerja-kerja dakwah berjalan maksimal.

Hari ini mimbar dakwah kita adalah panggung politik. Maka menjadi populer adalah sebuah keniscayaan. Apalagi jika kita berbicara dalam target-target dakwah yang luar biasa besar. Cita-cita dan harapan yang besar untuk turut andil memperbaiki negeri ini. Mungkinkah dakwah ini bisa mendapat kepercayaan publik yang luas jika semua kader dakwah takut terkenal? Tidak ada yang bersedia menjadi tokoh dengan daya jangkau dan daya jelajah yang mumpuni, hanya karena satu alasan klise, takut terkenal dan ingin menjaga keikhlasan.

Mengapa popularitas tidak kita jadikan kawan? Terutama bagi para kader dengan kapasitas dan kapabilitasnya dinilai layak untuk diamanahi menjadi terkenal. Hampir setiap suksesi dalam beragam level, indikator paling dasar dari penetapan calon yang akan diminta berkompetisi adalah seberapa populer ia di mata masyarakat? Bahkan di level Pilkades dengan mata pilih yang bisa dihitung dengan jari. Ada rekam jejak positif dan seberapa sering namanya dibicarakan menjadi kriteria utama.

Zaman berubah. Dan setiap zaman dengan tantangannya. Mungkin saja tantangan dakwah terbesar di zaman now bagi para aktivis dakwah adalah menjadi populer sekaligus menjadi yang paling ikhlas? Ya Rabb, mudahkanlah..
loading...
loading...