Sebelum Orang Riuh Soal Full Day School, KBM Kami 24 Jam 7 Hari


✍🏼 Slamet Setiawan | slametsetiawan.com

Beberapa waktu yang lalu sempat viral di media menyoal full day school yang diangkat oleh kemendikbud. Banyak pro-kontra tentang konsep tersebut, mulai dari sekedar update status di media sosial hingga melakukan demonstrasi di jalan.

Jauh sebelum itu kami melakukan pembelajaran tidak sekedar full day, tapi 24 jam 7 hari dalam seminggu. Ya, bagi kami para santri seluruh waktu adalah jam belajar. Semua aktifitas kami bernilai pembelajaran. Saya selalu ingat kata-kata mudir kami Kyai Tol'at Wafa, kata beliau tidurnya santri pun merupakan proses pembelajaran, mandi, makan dan sebagainya semua bernilai KBM. Pemahaman proses kegiatan belajar-mengajar kami tidak sesempit ruang kelas, namun jauh lebih luas. Tidurnya santri, makannya, mandinya dan semua aktifitasnya mendidik kami akan arti sebuah kedisiplinan, kemandirian, manajemen, organisasi, leadership dan ketaatan.

Bagi kami modal mengarungi masa depan tidak cukup hanya dengan sebuah pengetahuan akademis di sepetak ruang kelas. Itulah sebabnya kyai trimurti Gontor mengatakan bahwa pesantren ibarat warung serba ada yang mampu mengembangkan semua potensi dan keterampilan santri, sehingga pembentukan karakter dapat berjalan maksimal. Dan hal itu sudah kami terapkan jauh sebelum K13 yang menggadangkan pendidikan karakter ada. Jadi salah besar jika ada yang memandang santri hanya bisa ngaji dan duduk di masjid saja.

Bahkan arti libur bagi kami tidak seperti kebanyakan orang memahami. Bagi kami libur adalah perpindahan dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Tidak ada kesia-siaan yang dilakukan santri di hari libur. Kami bersikap seperti ini karena gusti Allah swt mengingatkan:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” Surat Al-Insyirah

Sehingga dari pesantren lahir wakil presiden, ketua MPR, menteri, anggota DPR, TNI/Polri dll. Santri mampu berprofesi seperti lulusan sekolah umum sekaligus mampu menjadi pengajar agama. Tapi luluusan sekolah umum belum tentu mampu menjadi pengajar agama. Maka, bersama santri masyarakat terarah. Bersama santri peradaban bermoral. Kami bangga jadi santri.

Selamat Hari Santri Nasional, 22 November 2017
loading...
loading...