Hubungan Antara Prioritas dan Pertimbangan #2

Hasil gambar untuk pertimbangan

By: Slamet Setiawan | www.ayobuka.id

Pada materi sebelumnya saya sudah membahas tentang kondisi masyarakat masa kini yang kehilangan prioritas hampir dalam semua bidang dan solusinya [lihat www.ayobuka.id]. Dalam menyimpulkan suatu prioritas yang harus kita ambil tentu memerlukan sebuah pertimbangan yang benar. Dan pertimbangan yang baik itu tidak bisa kita lakukan sembarangan, karena ijtihad akan bernilai dua kebaikan jika benar dan satu jika salah adalah ijtihad yang dilakukan dengan pertimbangan yang baik, yang sesuai dengan tata aturan yang telah Allah swt tetapkan.

Oleh karena itu para fuqaha telah merumuskan bahasan fiqih pertimbangan. Peran terpenting yang dapat dilakukan oleh fiqih pertimbangan ini ialah sebagai berikut:
1. Memberikan pertimbangan antara berbagai kemaslahatan dan manfaat dari berbagai kebaikan yang disyariatkan.
2. Memberikan pertimbangan antara berbagai kerusakan dan mudharat yang dilarang agama.
3. Memberikan pertimbangan antara berbagai maslahat dan mudharat apabila keduanya bertemu.

Dalam kategori kemaslahatan, Islam telah menetapkan bahwa kemaslahatan ada beberapa tingkatan, dimulai dari yang paling utama adalah dharuriyat, hajjiyat, dan tahsinat. Dharuriyat adalah sesuatu yang kita tidak bisa hidup tanpanya. Hajjiyat adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan, akan tetapi jika hal tersebut tidak ada kita tetap bisa hidup. Sedangkan tahsinat adalah pelengkap dalam menjalani kehidupan.

Pada gilirannya fiqih pertimbangan mengawal fiqih prioritas dan mengharuskan kita melakukan dua hal:
1. Mendahulukan dharuriyat daripada hajjiyat dan tahsinat.
2. Mendahulukan hajjiyat daripada tahsinat dan kamaliyat (penyempurna).

Dalam memberikan pertimbangan terhadap sesuatu yang prioritas ada beberapa prinsip yang harus kita perhatikan, yaitu:
1. Mendahulukan kepentingan yang pasti daripada yang belum pasti.
2. Mendahulukan kepentingan yang besar daripada yang kecil.
3. Mendahulukan kepentingan sosial daripada individu.
4. Mendahulukan kepentingan orang banyak daripada yang sedikit.
5. Mendahulukan kepentingan yang berkesinambungan daripada yang hanya insidental.
6. Mendahulukan kepentingan fundamental daripada yang sekedar formalitas.
7. Mendahulukan kepentingan jangka panjang daripada kepentingan jangka pendek.

Pada bagian kedua (kerusakan dan mudharat) kita dapat menemukan bahwa hal tersebut pun mempunyai tingakatan. Menyikapi kerusakan yang dapat merusak dharuriyat berbeda dengan kerusakan yang merusak hajjiyat dan tahsinat.

Para fuqaha telah menetapkan tingkatan volume, intensitas dan bahaya yang ditimbulkan dari kerusakan-kerusakan tersebut dengan enam kaidah berikut:
1. Tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan.
2. Sedapat mungkin harus menyingkirkan bahaya.
3. Tidak boleh menyingkirkan bahaya dengan bahaya yang sepadan atau yang lebih besar.
4. Bahaya yang lebih ringan boleh dipilih saat dihadapkan dua bahaya.
5. Bahaya yang lebih ringan boleh dipilih untuk mencegah bahaya yang lebih besar.
6. Bahaya yang bersifat khusus boleh diambil untuk mencegah bahaya yang lebih luas.

Selanjutnya bagaimana jika ada maslahat dan kerusakan bertemu? Al Quran memberi contoh pada masalah ini saat membahas khamr dan maisir. Allah swt berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’” (QS. Al Baqarah: 219)

Dalam hal ini ada kaidah, “Menolak kerusakan harus didahulukan atas pengambilan manfaat.” Yang selanjutnya disempurnakan dengan kaidah, “Kerusakan yang kecil diampuni untuk memperoleh kemaslahatan yang lebih besar.” Dan “Kerusakan yang bersifat sementara lebih diampuni demi kemaslahatan yang berkesinambungan.” Terakhir, “Kemaslahatan yang sudah pasti tidak boleh ditinggalkan hanya karena adanya kerusakan yang baru diduga.”

Allah swt telah memberi manusia akal sebagai modal untuk menentukan maslahat dan mudharat. Akan tetapi jika kemaslahatan tersebut berkaitan dengan kemaslahatan akhirat atau keduniaan yang telah ditetapkan agama, maka kita wajib menggunakan dalil sebagai timbangan.

Jika penolakan terhadap keburukan tidak dapat dilakukan, pengambilan terhadap kebaikan juga tidak dapat dilakukan sehingga tingkat keburukan dan kebaikan berada pada satu titik yang sama. Maka ia harus mengambil keputusan. Jika tidak ada perbedaannya, ia harus memilih pertimbangan yang lebih berat. Di posisi inilah nilai ijtihad bernilai dua kebaikan jika tepat dan satu kebaikan jika salah. Wallahu a’lam.


Ganjar Asri, 31/12/2017 | 19.17 WIB
loading...
loading...