Rahasia Dipilihnya Jazirah Arab Sebagai Tempat Kelahiran Islam


By: Slamet Setiawan | ayobuka.id

Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri dalam Ar Rakhiq Al Makhtum menyebutkan bahwa alasan dipilihnya Jazirah Arab sebagai tempat kelahiran Nabi Muhammad saw sekaligus pusat pertumbuhan risalahnya, karena secara geografis Jazirah Arab sangat strategis. Dari arah barat berbatasan dengan Laut Merah dan semenanjung gurun Sinai. Dari arah timur berbatasan dengan Teluk Arab dan sebagian besar Irak bagian selatan. Dari arah selatan berbatasan dengan laut Arab yang merupakan perpanjangan dari laut Hindia. Dan dari arah utara berbatasan dengan wilayah Syam dan sebagian negeri Irak.

Jazirah Arab dengan keadaan alamnya yang seluruhnya berupa gurun pasir sangat menguntungkan, karena kondisi ini menjadikannya seperti benteng yang kokoh, tidak mudah ditaklukkan. Sedangkan hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab terletak di antara benua-benua yang sudah dikenal di dalam dunia lama dan menyambung dengannya pada tapal batas daratan dan lautan. Sisi barat lautnya merupakan pintu masuk ke benua Afrika. arah timur lautnya adalah kunci masuk benua Eropa, dan timurnya merupakan jalan masuk bangsa-bangsa asing, Asia tengah dan Timur jauh.

Karena letak geografisnya seperti itu pula, hingga arah utara dan selatan menjadi tempat berlabuh bagi berbagai suku bangsa, sehingga menjadi pusat pertukaran ekonomi, agama dan seni.

Sedangkan dari sisi masyarakatnya, waktu itu dunia dikuasai oleh dua kekuatan adidaya, Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani. Dimana peradaban besar tersebut juga sebagai ladang subur berbagai khurafat keagamaan dan filosofis yang saling bertentangan. Di antaranya adalah zoroaster, sebuah ideologi yang menghalalkan perkawinan sedarah (ayah dengan anak, anak dengan ibunya dan seterusnya). Ada juga keyakinan yang disebut mazdakia, yaitu sistim perserikatan yang menghalalkan wanita, harta dan sebagainya untuk dinikmati bersama secara sarikat. Dan masih banyak lagi kebobrokn moral ditengah kemajuan peradaban saat itu.

Sementara itu di Jazirah Arab, bangsa Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan-keguncangan di atas. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban Persia yang bisa berpotensi melahirkan kreatifitas kepada mereka untuk menciptakan ideologi-ideologi dan perilaku sesat seperti masyarakat Persia saat itu. Mereka tidak memiliki kekuatan militer Romawi yang bisa mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangganya. Juga kemegahan filosofis dan dialektika Yunani, yang bisa menjerat mereka menjadi hamba khurafat dan mitos.

Diri sini, posisi bangsa Arab ibaarat bahan baku yang belum diolah. Masih bersih dan belum terpengaruh dengan kebejatan moral. Mereka masih menampakkan nilai-nilai fitrah dan kemanusiaan, seperti setia, dermawan, kasih sayang dan sebagainya.

Namun kekurangan bangsa Arab saat itu adalah tidak ada ma’rifat pada diri mereka, sehingga sering kali mereka dengan ketidak tahuannya tersebut mengekspresikan nilai-nilai luhurnya dengan cara yang salah. Misal nilai kesetiaan dan kepahlawanan diekspresikan dengan cara saling berperang antar suku.

Jika telah kita ketahui kondisi bangsa Arab saat itu, maka kita akan mampu melihat hikmah ilahiyah dibalik diutusnya nabi Muhamad saw di Jazirah Arab.

Sebagaimana telah diketahui, Allah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, dan rumah yang pertama di bangun bagi manusia untuk beribadah dan menegakkan syiar-syiar agama. Allah juga telah menjadikan dakwah bapak para nabi, Ibrahim as di lembah tersebut. Semua itu merupakan kelaziman dan kesempurnaan jika lembah yang diberkahi ini juga menjadi tempat lahirnya dakwah islam yang notabene adalah millah Ibrahim.

Hikmah lainnya adalah dari sisi geografis seperti yang telah saya sebutkan di atas bahwa posisi Jazirah Arab sangat strategis sebagai pusat perlintasan dan berada di tengah-tengah bangsa lain. Hal ini akan memudahkan penyebaran ajaran islam kedepan. dan ini terbukti pada masa khalifah ar rasyidah ekspansi islam sangat luar biasa.

Selain itu, Allah menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa induk agama islam, hikmahnya karena bahsa Arab memiliki karakteristik yang lebih detil dibandingkan bahasa-bahasa yang lain, dengan begitu maksud dan tujuan yang ingin disampaikan islam lebih mudah dimengerti. wallahu a’lam.

Way Jepara, 23 dec 17 | 6.04 pms
loading...
loading...