Bolehkah Memakan Sisa Persembahan Agama Lain?

✍Slamet Setiawan

Tetangga kami ada yang beragama non muslim dan sering memberi buah-buahan kepada anak-anak (termasuk anak kami) dan tetangga sepulangnya dari tempat ibadah. Dan ternyata buah-buahan tersebut adalah bekas sesembahan. Bolehkah kita memakannya?

Makanan sesaji atau yang dipersembahkan dalam ibadahnya orang kafir bila berbentuk daging hewan sembelihan maka dia haram dimakan berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Maidah, 

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

“Diharamkan bagi kalian makan bangkai, darah, daging babi dan yang disembelih untuk selain Allah.” (Qs. Al-Maidah : 3)

Jadi, kalau makanannya berupa daging hewan sembelihan sekalipun hewan yang halal seperti ayam atau kambing maka tidak boleh dimakan, tetapi kalau berupa buah atau kue maka tidak ada masalah memakannya berdasarkan riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya nomor 24856,Jarir menceritakan kepada kami, dari Qabus dari ayahnya,

أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتْ عَائِشَةَ قَالَتْ: إِنَّ لَنَا أَظْآرًا مِنَ الْمَجُوسِ، وَإِنَّهُ يَكُونُ لَهُمُ الْعِيدُ فَيُهْدُونَ لَنَا؟ فَقَالَتْ: أَمَّا مَا ذُبِحَ لِذَلِكَ الْيَوْمِ فَلاَ تَأْكُلُوا، وَلَكِنْ كُلُوا مِنْ أَشْجَارِهِمْ.

Ada seorang wanita bertanya kepada Aisyah, “Kami mempunyai teman orang-orang Majusi, mereka mempunyai hari raya, dan  biasa memberikan hadiah kepada kami? Aisyah menjawab, “Bila berbentuk daging hewan sembelihan maka janganlah kalian makan, tetapi makanlah yang berasal dari pohon-pohon mereka (buah-buahan).”

Selain itu ada riwayat dari Abu Barzah Al-Aslami RA, bahwa dia punya tetangga orang Majusi dan mereka biasa menghadiahinya di hari raya Nairuz dan Mihrajan. Dalam hal ini Abu Barzah berpesan kepada keluarganya,

مَا كَانَ مِنْ فَاكِهَةٍ فَكُلُوهُ، وَمَا كَانَ مِنْ غَيْرِ ذَلِكَ فَرُدُّوهُ.

“Yang berbentuk buah-buahan silahkan kalian makan, tapi selain itu maka kembalikan.” (Ibnu Abi Syaibah, no. 24857).

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam catatan kakinya terhadap kitab Fath Al-Majid cetakan Dar Ibnu Hazm hal. 128, atau pada halaman 174 di cetakan Dar al-‘Alamiyyah Mesir tahun 2013,

“Apabila makanan itu terbuat dari daging yang disembelih kaum musyrikin atau lemaknya atau kuahnya maka itu haram, karena sembelihan mereka termasuk bangkai sehingga diharamkan dan menjadi najis mengotori makanan yang mencampurinya. Berbeda dengan roti atau semisalnya yang tidak tercampur dengan sembelihan kaum musyrikin maka itu halal bagi yang mengambilnya. Sama halnya dengan uang dan yang semisalnya. Wallahu a’lam.”

Way Jepara, 22/01/2018 | 22.21 WIB

(Dikutip dari kawalitareng.blogspot.com)


loading...
loading...