Khilaf dan Ikhtilaf

By: ayobuka.id

Khilaf atau ikhtilaf menurut jumhur ulama maknanya adalah sesuatu yang memiliki perbedaan. Oleh karena adanya nash-nash yang bersifat umum maka dalam menafsirkan muncullah perbedaan di kalangan ulama. Namun mereka hanya berbeda pada masalah furu' (cabang), bukan pada ushul (pokok). Mereka tidak pernah berbeda tentang kewajiban wudhu sebelum shalat dan seterusnya.

Yang berbeda dari para ulama adalah tata caranya, dimana para imam madzhab mempunyai ijtihad masing-masing. Disini ada beberapa hal yang perlu kita pahami dalam menyikapi ikhtilaf:

1. Madzhab bukan agama, para imam madzhab hanya memiliki pemahaman berbeda pada nash dengan ilmu yang ada pada mereka. Maka slogan "mari kembali kepada Al Quran dan sunnah" memang bagus. Tapi apakah kita mampu berijtihad menyimpulkan hukum yang termaktub dalam nash? Jadi simpulannya kita bermadzhab karena kita memiliki keterbatasan, dan para imam madzhab posisinya sebagai ahludz dzikri (oranng yang berpengetahuan) yang pengetahuannya memudahkan kita dalam menjalankan syariat.

2. Ikhtilaf ulama hanya pada furu' (cabang). Jadi semua berupa ijtihad yang posisinya sama (bisa benar atau sebaliknya).

3. Tidak membid'ahkan hanya karena berbeda cara. Sekali lagi hanya cara. Bukan masalah pokok.

Khilafiyah ternyata sudah terjadi sejak masa sahabat ketika Rasulullah ﷺ masih hidup.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ بْنُ أَسْمَاءَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمْ الْعَصْرَ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma' telah menceritakan kepada kami Juwairiyah bin Asma' dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika perang al-Ahzab: "Janganlah seseorang melaksanakan shalat 'Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah." Setelah berangkat, sebagian dari pasukan melaksanakan shalat 'Ashar di perjalanan sementara sebagian yang lain berkata; "Kami tidak akan shalat kecuali setelah sampai di perkampungan itu." Sebagian yang lain beralasan; "Justru kita harus shalat, karena maksud beliau bukan seperti itu." Setelah kejadian ini diberitahukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau tidak menyalahkan satu pihakpun." (HR. Bukhari - 3810)

Setelah Rasulullah wafat pun para sahabat khilaf dalam masalah pemakaman jenazah ﷺ. Ada yang berpendapat dimakkamkan di masjid beliau (Masjid Nabawi). Ada pula yang berpendapat untuk dimakamkan bersama sahabat yang lain di pemakaman baqi'. Dan kemudian Abu Bakar ra berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada seorang nabi pun yang meninggal kecuali dimakamkan di tempat dia meninggal." Maka kasur tempat Rasulullah ﷺ tidur diangkat dan digali untuk pemakaman beliau.  


loading...
loading...