Memahami Ayat Mutasyabihat

✍Slamet Setiawan

Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat yang memiliki kesamaran makna atau tidak dapat dipahami secara tekstual. Jika ditafsirkan secara tekstual akan menjerumuskan kita ke dalam tasybih (penyerupaan) Allah swt denan makhluk, dan tajsim (menjasmanikan) Allah swt. Contohnya dalam ayat:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘arsy." -Surat Tha-Ha, Ayat 5

Jika kita menafsirkan secara tekstual maka Allah swt sama seperti makhluk yang duduk di atas singgasana. Padahal dalam ayat lain Dia menyebut bahwa tidak ada yang menyamaiNya,

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." -Surat Asy-Syura, Ayat 11

Maka ada dua metode yang disepakati para ulama dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat.

1. Tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah swt).

Dalilnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التُّسْتَرِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
{ هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ }
قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمْ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ibrahim At Tusturi dari 'Abdullah bin Abu Mulaikah dari Al Qasim bin Muhammad dari 'Aisyah dia berkata; bahwa Nabi shallaallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca ayat berikut ini: "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah." Aisyah berkata; kemudian Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat, maka mereka itulah adalah yang disebutkan oleh Allah 'Waspadalah kalian terhadap mereka!" (HR. Bukhari no. 4183 & Muslim no. 4817)

Dalam kitab Syarh At-Thahawiyah fi Al-Aqidah As-Salafiyah Imam Malik menyebutkan ketika di tanya tentang makna Allah swt bersemayam di atas arsy, beliau menjawab: "Semua orang sudah paham bagaimana seseorang bersemayam, akan tetapi tidak ada yang mengetahui bagaimana Allah swt bersemayam."

Imam At-Tirmidzi mengatakan tentang turunnya Allah swt setiap malam ke langit dunia, para ulama berkata bahwa riwayat ini shahih dan kuat. Riwayat-riwayat seperti ini di imani, tidak diimajinasikan, tidak pula ditanyakan kaifa (bagaimana). [lihat Sunan Tirmidzi jilid 3 hlm. 71]

2. Di takwil

Contoh takwil Ulama Salaf (Abad 1-3 Hijriyah)

takwil Abdullah bin Abbas,
الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَٰذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

"(yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (Kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami." -Surat Al-A'raf, Ayat 51

Ayat ini tidak bisa ditafsirkan secara tekstual karena tidak mungkin Allah swt memiliki sifat lupa.

Takwil pertama,
Dari Ibnu Abbas, ayat, "Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini". Ibnu Abbas berkata (maknanya): "Kami tinggalkan mereka dari rahmat, sebagaimana mereka meninggalkan amal untuk pertemuan pada hari ini."

Takwil kedua,
"Allah swt melupakan mereka dari kebaikan, tapi tidak melupakan mereka dari kejahatan."

Sementara Imam Mujahid mentakwilkan ayat di atas sebagai berikut:

Takwil pertama,
"Kami tinggalkan mereka sebagaimana mereka meninggalkan pertemuan pada hari ini."

Takwil kedua,
"Kami tinggalkan mereka di dalam api neraka."

Takwil ketiga,
"Kami akhirkan mereka dalam api neraka."

Contoh Takwil Ulama Khalaf (Setelah Abad ke 3 Hijriyah)

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy." -Surat Tha-Ha, Ayat 5

Kita membaca apa adanya sebagaimana lafaz bahasa Arabnya. Kita beriman dan meyakini bahwa ayat mutasyabihat ini adalah dari sisi Allah swt, sebagaimana disebut dalam Surat Ali Imran, ayat 7.

Kita meyakini Allah swt tidak serupa dengan makhlukNya atau melakukan tanzih yaitu mensucikan Allah swt dari menyerupai makhluk. Kita tidak memahami bahwa Allah swt bersemayam atau ada di atas arasy sebagaimana makna zahirnya.

Kita membahas ayat muhkamat yang ada kaitannya dengan ayat mutasyabihat.

Contoh ayat muhkamat itu adalah

"Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Robb (Tuhan Yang Menguasai, Memiliki, Mencipta, Memelihara)  ‘Arsy yang agung." -Surat At Taubah, ayat 129

Dalam Surat At Taubah, ayat 129 jelas disebut bahwa Allah swt adalah rabb (Penguasa, Pemilik, Pencipta, Pemelihara) dari arsy yang agung. Kata al-azhim disini ditulis dengan kasrah menunjukah keterangan untuk arsy. Allah swt adalah rabb seluruh alam, dimana salah satu makhlukNya yang agung adalah arsy. Inilah salah satu pokok keyakinan kita, Dalam ayat itu tidak akan ada kekeliruan pemahaman atau penyerupaan Allah swt dengan makhlukNya.

atau

"Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai ‘arsy, lagi Maha Mulia." -Surat Al Buruj: 14-15

Dalam Surat Al Buruj ayat 15 juga dijelaskan bahwa Allah Yang Maha Mulia adalah Pemilik arsy. Al-Majid ditulis dengan dhamah adalah keterangan untuk rabb. Makna ayat ini jelas, tidak akan ada kekeliruan dan tidak ada keraguan

Jadi makna ‘alal ‘Arsy istawa surat Thaha ayat 5 diantaranya dapat bermakna rabbul ‘arsy seperti termaktub dalam Surat At-Taubah ayat 129 dan dzul ‘arsy sebagaimana dalam Surat Al-Buruj ayat 15. Kedua ayat muhkamat ini jelas maknanya dan tidak ada keraguan dalam memahaminya sebab tidak ada syubhat penyerupaan Allah swt dengan makhlukNya.

Bagaimana Sikap Kita?

Dalam Al Qur´an terdapat ayat yang muhkamat, yaitu yang jelas maknanya dan ayat yang mutasyabihat, yaitu ayat yang syubhat atau samar maknanya. Hal ini disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 7. Kemudian kita dianjurkan untuk selalu membaca doa yang berkenaan dengan ayat mutasyabihat ini pada ayat berikutnya

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal." -Surat Ali 'Imran, Ayat 7

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” -Surat Ali 'Imran, Ayat 8

Ayat mutasyabihat atau ayat samar/syubhat adalah ayat yang makna zahirnya memungkinkan orang terkeliru memahaminya sehingga menyerupakan Allah dengan makhlukNya:

Dengan mengatakan Allah memiliki anggota tubuh (jisim) dan berbuat seperti makhluk yang bertubuh, misalnya punya tangan, punya wajah, duduk, bersemayam, berada di langit, turun dari atas ke bawah dengan makna zahirnya dan sebagainya. Pemahaman seperti ini disebut faham mujassimah, yaitu meyakini Allah swt punya jisim (sosok tubuh). Ini amat berbahaya sebab sebenarnya pemahaman ini telah membahas dan memikirkan dzat Allah swt secara tidak sadar.

Menjadi tidak beradab kepada Allah swt, yaitu mensifatkan Allah swt dengan sifat kelemahan atau sifat yang tidak layak bagi Allah swt, misalnya mengatakan Allah swt bersifat lupa, Allah swt bersifat menipu dan sebagainya.

Sedang ayat muhkamat adalah ayat yang jelas maknanya dan mudah difahami yang di dalamnya terdapat pokok-pokok agama. Oleh sebab itu dalam memahami ayat mutasyabihat kita mesti hati-hati agar tidak terkeliru, karena orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan justru mengikuti dan membahas ayat-ayat mutasyabihat itu untuk menimbulkan fitnah, seperti yang disebut dalam Surat Ali Imran ayat 7. Disinilah semakin kita sadari pentingnya mempelajari ilmu aqidah ahlussunnah wal jamaah.

Dalam ayat berikutnya (ayat 8) dijelaskan pula agar kita hendaknya selalu berdoa minta perlindungan kepada Allah swt dari hati yang cenderung kepada kesesatan setelah kita mendapatkan hidayat Islam.

Secara garis besar cara pemahaman ahlussunnah wal jama’ah adalah sesuai dengan konsep Syahadat Tauhid “Laa ilaaha illallah” yang dimulai dengan tanzih yaitu mensucikan Allah swt dari menyerupai makhluk, yaitu menolak adanya ilah (tuhan lain yang disembah) dan kemudian menetapkan bahwa yang ada dan patut disembah hanyalah Allah.

Dalam Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi berkata: "Maka di antara orang yang di kafirkan adalah orang yang menyatakan Allah swt memiliki tubuh secara nyata (menyerupakan dengan makhluk)."

Kita meyakini bahwa Allah swt tidak serupa dengan makhluk, Disini kita memulai dengan tanzih yaitu mensucikan Allah swt dari menyerupai makhluk, kemudian kita membahas maknanya dengan mengalihkan dari membahas ayat mutasyabihat kepada membahas ayat muhkamat yang pasti maknanya yang berkaitan dengan ayat mutasyabihat itu. Mengapa mesti kita alihkan kepada ayat muhkamat? Adalah agar kita meninggalkan hal yang syubhat dan berpegang kepada yang pasti, sebagaimana hadits Rasulullah saw yang menyebutkan:

عَنْ أَبِـيْ مُحَمَّدٍ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ، سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ وَرَيْحَانَتِهِ قَالَ : حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ :((دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ)). رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

.Dari Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Aku telah hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu’.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasâ`i. At-Tirmidzi berkata,“Hadits hasan shahîh]

Ayat muhkamat adalah jelas maknanya dan sudah pasti benar, maka kalau kita katakan bahwa ayat mutasyabihat itu diantaranya berarti seperti yang disebut dalam ayat muhkamat, adalah tidak akan bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Dalam ayat muhkamat itulah terkandung pokok agama dan menerangkan  perkara yang bekaitan dengan ayat mutasyabihat.

Tetapi walaupun begitu kita tetap menyerahkan makna sebenarnya kepada Allah swt semata, sebab hanya Allah swt Yang Maha Mengetahui maknanya yang pasti.

Ulama salaf melakukan tanzih yaitu mensucikan Allah swt dari menyerupai makhluk terlebih dahulu, baru kemudian menetapkan dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah swt tanpa membahas. Seperti disebut di atas sesuai dengan konsep Syahadat Tauhid “Laa ilaaha illallah”, yaitu menolak terlebih dahulu adanya ilah selain Allah swt baru menetapkan hanya Allah swt satu-satunya Ilah (Tuhan yang layak kita sembah).

Sedangkan penganut paham mujassimah, yaitu menetapkan sifat Allah swt dengan makna zahir ayat mutasyabihat terlebih dahulu, baru kemudian melakukan tanzih yaitu mensucikan Allah swt dari menyerupai makhluk, seperti yang tersebut dalam tauhid asma wa sifat yang mereka susun. Mereka menetapkan dahulu bahwa Allah swt ada di atas arsy sebagaimana makna zahirnya, tidak boleh menta`thil (membuang), tidak mentakwil (mengganti), sehingga mereka memahami Allah swt punya tangan, punya wajah, punya kaki, berada di atas sebagaimana makna zahirnya.

Kemudian baru ditanzih: tanganNya, wajahNya, kakiNya tidak serupa dengan tangan, wajah dan kaki makhluk. Walaupun disebut tidak serupa makhluk tetapi ini berbahaya sebab:

1. Syubhat menyerupakan Allah swt dengan makhluk secara tidak sadar dan memahami Allah swt berjasmani (berjisim, punya volume, ada di lokasi tertentu yang ada arah, baik di alam nyata maupun yang ghaib). Ini sebenarnya sifat jisim makhluk atau alam, walaupun kemudian mereka katakan jisim. Itu sebabnya golongan ini disebut mujassimah (golongan yang meyakini Allah swt berjisim). Pemahaman mujassimah ini sudah mereka masukkan melalui catatan kaki Mushaf Al Qur´an.

2. Melanggar sifat wahdaniyah Allah swt, yakni Maha Esa. Kalau ditanya dimana kuasa Allah swt, ada pada kakiNya, wajahNya, tanganNya atau pada bagian Dzat Allah swt yang lain? ada berapa jumlah kuasa Allah swt?

Kalau dikatakan ada pada bagian-bagian dzat itu tetapi satu, satu tetapi ada pada bagian-bagian dzat Allah swt itu, maka ini sama dengan keyakinan orang yang berkata tiga tapi satu, satu tapi tiga. Mereka tidak sadar bahwa sifat berbilang dalam satu dzat juga termasuk sifat jisim (tubuh), sifat yang menyerupai makhluk. Kita berlindung kepada Allah swt dari keyakinan yang seperti itu. Wallahu a'lam.

Kota Metro, 27/01/2018 | 20.25 WIB


loading...
loading...