Mengenal Madzhab dan Khilafiyah

Makna kata مذههب secara bahasa adalah موقع الذهاب atau "tempat pergi". Sedangkan secara istilah maknanya adalah: "Hukum-hukum syar'i yang bersifat far'i (cabang) dan ijtihadi yang dihasilkan dari dalil-dalil yang bersifat dhanni oleh seorang mujtahid secara khusus".

Madzhab sudah ada sejak wafatnya nabi ﷺ, akan tetapi pengertiannya baru tersusun rapi dan sistematis dengan kaidah-kaidahnya pada masa imam madzhab. Adapun imam madzhab yang masyhur ada 12, namun yang bertahan dan banyak dikenal hingga sekarang hanya 4 madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, Hambali).

Walaupun secara umum para imam madzhab banyak berbeda pendapat dalam ijtihadnya, namun mereka tidak pernah menyalahkan satu sama lain. Bahkan saling memuji dan menghormati. Berikut beberapa contohnya:

1. Imam Syafii melakukan shalat shubuh, lokasinya dekat dengan makam Imam Hanafi, maka Imam Syafii tidak membaca qunut untuk menghormati Imam Hanafi.

2. Ketika khalifah Harun Ar-Rasyid mengajak Imam Malik berunding, beliau mengusulkan agar kitab Al-Muwatha' digantung di ka'bah, supaya seluuruh masyarakat memakai kitab tersebut. Lalu Imam Malik menolaknya dan mengatakan, "jangan lakukan! Sesungguhnya para sahabat Rasulullah ﷺ telah berbeda dalam masalah furu', mereka juga telah menyebar ke seluruh negeri, semuanya benar dalam ijtihadnya". Khalifah pun memuji keindahan akhlak Imam Malik.

3. Imam Al-Laits bin Sa'ad berkata, "saya bertemu dengan Imam Malik dan saya katakan kepadanya, 'saya melihat engkau mengusap keringat dari alis matamu?'"

Imam Malik menjawab, "saya merasa tidak punya apa-apa ketika bersama Abu Hanifah, sesungguhnya dia benar-benar ahli fiqih wahai Al-Laits".

Kemudian saya menemui Imam Hanafi dan saya katakan, "bagus sekali ucapan Imam Malik terhadap dirimu".

Imam Hanafi menjawab, "demi Allah ﷻ saya belum pernah melihat orang yang lebih cepat memberikan jawaban yang benar dan zuhud yang sempurna melebihi Imam Malik".(Tartib Al Madarik wa Taqrib Al Masalik, Juz 1 hal. 36)

4. Abdullah putra Imam Hambali berkata, "saya katakan kepada ayah saya, 'wahai ayahanda, orang seperti apa Syafii itu, saya selalu mendengar engkau berdoa untuknya', Imam Hambali menjawab, 'wahai anakku, Imam Syafii seperti matahari bagi dunia. Seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah, adakah pengganti bagi kedua ini?'". (Tahdzib Al-Kamal, Juz xxiv)

Begitulah mulianya akhlak para imam madzhab.

Selain ulama-ulama tempo dulu, ulama masa kini pun memiliki ikhtilaf terhadap masalah-masalah yang tidak ada nash tentang itu, atau ada nash namun mereka ikhtilaf. Misalya:

1. Cara turun ketika sujud
Syaikh Ibnu Baz mengatakan lutut lebih dahulu, sedangkan Syaikh Al-Albani tangan lebih dahulu (mereka satu madzhab).

2. Takbir dalam sujud tilawah
Syaikh Ibnu Baz mengatakan bertakbir, sedangkan Syaikh Al-Albani berpendapat tanpa takbir (mereka satu madzhab).

3. Shalat sunnah tahiyatul masjid di tempat shalat 'id.
Syaik Ibnu Baz berpendapat tidak ada shalat tahiyatul masjid, sedangkan Syaikh Utsaimin berpendapat ada shalat sunnah tahiyatul masjid (mereka satu madzhab).

4. Hukum foto
Syaik Ibnu Baz berpendapat foto sama dengan patung/lukisan, sedangkan Syaikh Utsaimin mengatakan foto tidak sama dengan lukisan/patung (mereka satu madzhab).

5. Zikir menggunakan tasbih
6. ‎Syaikh Utsaimin berpendapat hal tersebut boleh, sedangkan Syaikh Al-Albani berpendapat bid"ah (mereka satu madzhab).

Jika masing-masing ulama tidak mempunyai akhlak yang mulia pasti satu dan lainnya akan saling membid'ahkan. Akan tetapi dengan akhlak dan ilmu mereka saling menghormati perbedaan tersebut, karena ikhtilaf dalam furu' itu biasa, selama berdasar pada dalil dan masalah yang diperselisihkan bersifat dzanni.

Hikmah dari ikhtilaf dan keberadaan macam-macam madzhab adalah bahwa ikhtilaf sudah terjadi sejak nabi ﷺ masih hidup hingga sekarang. Oleh karena itu sikap kita bukan menghilangkan ikhtilaf atau mengingkarinya. Selama hal tersebut dalam ranah furu' maka ikhtilaf menjadi bukti keluasan khazanah islam.

Berbeda dalam masalah furu' tidak lantas membuat kita gampang membid'ahkan orang lain. Karena Imam Ahmad tidak membid'ahkan Imam Syafii gara-gara qunut fdan lainnya. Di atas sudah saya sebutkan contoh akhlak dalam menyikapi perbedaan. Di atas juga sudah ada beberapa contoh ikhtilaf ulama masa kini, dimana mereka satu madzhab (madzhab Hambali). Jika salah satu pengikut mereka saling membid'ahkan, itu sama saja dengan membid'ahkan madzhab sendiri dan mengingkari akhlak ulama yang mmereka ikuti, sehingga akan memicu perpecahan.

Terakhir, Imam Hasan Al-Banna berwasiat,

نعمل فيما اتفقنا ونعتذر فيما اختلفنا

"Mari beramal pada perkara yang kita sepakati, dan mari berlapang dada menyikapi perkara yang kita ikhtilaf di dalamnya."

Wallahu a'lam.

✍Slamet Setiawan

Way Jepara, 12/01/18 | 08.31 am


loading...
loading...